Santo Yohanes Paulus II, PAUS

Lahir : 18 Mei 1920
Asal : Wadowice, Polandia selatan 

Nama asli :
Karol Józef Wojtyła (dilafalkan sebagai: voi-TI-wa; IPA: /ˈkarɔl ˈjuzef vɔjˈtɨwa/)

Meninggal : 
2 April 2005 (usia 84 tahun)
Istana Apostolik , Kota Vatikan

Kanonisasi :
1. 
Beato 1 Mei 2011 oleh Paus Benediktus XVI
2. 27 April 2014 oleh Paus Fransiskus

PELINDUNG

ü  Para Keluarga

ü  Para penderita penyakit Parkinson

ü  Para Umat Katolik Muda

ü  Menentang aborsi

Peringatan : 22 Oktober

Karol Józef Wojtyła (dilafalkan sebagai: voi-TI-wa; IPA: /ˈkarɔl ˈjuzef vɔjˈtɨwa/) lahir pada 18 Mei 1920 di Wadowice, Polandia selatan,[34][35][36] sebagai seorang anak ketiga dari opsir pada Tentara Austria-Hungaria, yang juga bernama Karol Wojtyła[37] dan Emilia Kaczorowska, yang seorang keturunan Lituania.[36][37] Ibunya meninggal pada 13 April 1929,[38] ketika ia berusia 8 tahun 11 bulan.[39] Kakak perempuan Karol, Olga, meninggal pada waktu bayi sebelum kelahiran Karol; dengan demikian dia tumbuh dan dekat dengan kakaknya Edmund yang lebih tua 14 tahun, dan punya panggilan Mundek. Namun, pekerjaan Edmund sebagai dokter mengakibatkan kematiannya karena skarlatina (scarlet fever). Hal ini sangat mempengaruhi Karol.

Ayahnya, seorang bintara di Angkatan Darat Polandia, meninggal karena serangan jantung pada 1941, meninggalkan Karol seorang diri dari sisa keluarga.[37][38][43] “Saya tidak ada pada saat kematian ibu saya, saya tidak ada pada saat kematian kakak saya, saya tidak ada pada saat kematian ayah saya” katanya, menceritakan masa-masa kehidupannya ketika itu, hampir 40 tahun kemudian, “Pada usia 20, saya sudah kehilangan semua orang yang saya cintai”

Dia kemudian mulai berpikir serius untuk menjadi pastor setelah kematian ayahnya, kemudian panggilan imamatnya perlahan menjadi ‘sesuatu yang mutlak dan tak terbantahkan.’[44] Pada Oktober 1942, dengan meningkatnya keinginan untuk menjadi pastor, dia mengetuk pintu Wisma Uskup Agung di Kraków, dan menyatakan bahwa dia ingin belajar menjadi pastor.[44] Tidak lama kemudian, dia mulai belajar di seminari rahasia yang dijalankan oleh uskup agung Kraków Kardinal Adam Stefan Sapieha.

Pada 29 Februari 1944, Wojtyła tertabrak oleh truk Nazi Jerman. Tak diduga, perwira Wehrmacht Jerman kasihan padanya dan mengirimkannya ke rumah sakit. Dia menghabiskan waktu dua minggu untuk pulih dari gegar otak dan luka bahu. Kecelakaan ini dan penyelamatannya membuatnya makin yakin dengan panggilan imamatnya.

Menjadi uskup, uskup agung, dan kardinal

Pada 4 Juli 1958,[55] ketika Wojtyła sedang berlibur bermain kayak di sebuah danau di utara Polandia, Paus Pius XII mengangkatnya menjadi uskup auksilier di Kraków. Dia dipanggil ke Warsawa, untuk bertemu Primat Polandia Kardinal Stefan Wyszyński, yang memberitahunya mengenai pengangkatannya.[61][62] Dia menyetujui untuk membantu uskup agung Eugeniusz Baziak sebagai uskup pembantu, dia ditahbiskan ke keuskupan menggunakan nama Uskup Ombi pada 28 September 1958.[55] Pada usia 38 tahun, dia menjadi uskup termuda di Polandia. Baziak wafat pada Juni 1962 dan pada 16 Juli 1962, Karol Wojtyła terpilih sebagai Vicar Capitular, atau administrator sementara keuskupan agung sampai uskup agung baru terpilih.[35][36]

Mulai Oktober 1962, Uskup Wojtyła mengambil bagian pada Konsili Vatikan II (1962–1965),[34][35][36][55] dan memberikan kontribusi pada dokumen-dokumen penting yang kelak menjadi Pernyataan tentang Kebebasan Beragama (Dignitatis Humanae) dan Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam Dunia Modern (Gaudium et Spes), dua hasil utama Konsili, ditilik dari sudut pandang historis dan pengaruhnya.[55]

Uskup Wojtyła juga terlibat pada semua majelis sinode para uskup.[35][36] Kemudian pada 13 Januari 1963, Paus Paulus VI mengangkatnya menjadi Uskup agung Kraków.[63] Pada 26 Juni 1967, Paus Paulus VI mengumumkan promosi Uskup agung Wojtyła kepada Dewan Kardinal.[34][55][63] Dia ditetapkan menjadi Kardinal Imam dengan gelar titular San Caesareo de Appia.[64]

Pada tahun 1967, dia berperan penting dalam perumusan ensiklik Humanae Vitae, yang berkaitan dengan masalah pelarangan aborsi dan pengaturan kelahiran dalam KB.[34][55][65][66] Menurut seorang saksi baru, Kardinal Wojtyla pada tahun 1970 melarang distribusi di keuskupan Kraków surat pastoral tentang keuskupan Polandia sedang mempersiapkan upacara ulang tahun ke-50 Perang Polandia-Soviet.[67]

Pemilihan Paus

Pada bulan Agustus 1978, setelah wafatnya Paus Paulus VI, Wojtyła memberikan suara dalam konklaf kepausan, yang memilih Yohanes Paulus I. Yohanes Paulus I meninggal setelah hanya 33 hari menjabat sebagai paus, memicu konklaf lainnya.[36][55][68]

Konklaf kedua tahun 1978 dimulai pada tanggal 14 Oktober, sepuluh hari setelah pemakaman. Konklaf tersebut terpecah antara dua kandidat Paus yang kuat: Kardinal Giuseppe Siri, Uskup Agung Genoa yang konservatif, dan Kardinal Giovanni Benelli, Uskup Agung Firenze yang liberal dan seorang teman dekat Yohanes Paulus I.

Para pendukung Benelli yakin bahwa ia akan terpilih, dan pada pemungutan suara awal, Benelli hanya terpaut sembilan suara dari kemenangan.[69] Namun, kedua pria tersebut menghadapi perlawanan yang cukup besar sehingga kecil kemungkinan keduanya akan menang. Giovanni Colombo, Uskup Agung Milan, dianggap sebagai kandidat kompromi di antara para kardinal pemilih Italia, tetapi ketika ia mulai menerima suara, ia mengumumkan bahwa, jika terpilih, ia akan menolak untuk menerima jabatan kepausan.[70] Kardinal Franz König, Uskup Agung Wina, menyarankan Wojtyła sebagai kandidat kompromi lain kepada sesama pemilihnya.[69] Wojtyła menang pada pemungutan suara kedelapan pada hari ketiga (16 Oktober).

Wojtyła menjadi paus ke-264 menurut daftar paus kronologis, dan paus non-Italia pertama dalam 455 tahun.[76] Pada usia 58 tahun, ia adalah paus termuda sejak Paus Pius IX pada tahun 1846, yang berusia 54 tahun.[55] Seperti pendahulunya, Yohanes Paulus II tidak menggunakan penobatan tradisional dan sebagai gantinya menerima investitur gerejawi dengan pelantikan kepausan yang disederhanakan pada tanggal 22 Oktober 1978. Selama pelantikannya, ketika para kardinal berlutut di hadapannya untuk mengucapkan sumpah dan mencium cincinnya, ia berdiri ketika uskup Polandia, Kardinal Stefan Wyszyński berlutut, menghentikannya dari mencium cincin, dan hanya memeluknya.

Sumber :

https://www.franciscanmedia.org/saint-of-the-day/saint-john-paul-ii/

A. Heuken SJ,
Ensiklopedi Orang Kudus, Yayasan Cipta Loka Caraka, Yogyakarta: 2019

Rudiyanto Andreas, Ensiklopedi Orang Kudus Sepanjang Tahun, Prima Media, Yogyakarta: 2023

https://id.wikipedia.org/wiki/Paus_Yohanes_Paulus_II

Komsos Katedral Semarang
Jl. Pandanaran No. 9, Semarang 50244 Jawa Tengah

© Komsos Katedral 2024