Breaking News
Home » Sejarah » Utuh Merengkuh : Terlibat Nyata Berbela Rasa

Utuh Merengkuh : Terlibat Nyata Berbela Rasa

Magnifikat Anima Mea, Dominum! Jiwaku Meluhurkan Tuhan!
Syukur kepada Allah, pada tahun ini tepatnya tanggal 7 Oktober 2018, Gereja Santa Perawan Maria (SPM) Ratu Rosario Suci Randusari Katedral Semarang genap berusia 90 tahun. Selama itulah, tiap-tiap pribadi disatukan dalam Paguyuban Umat Allah untuk membagikan pemikiran, tenaga, serta berkat bagi kepentingan pelbagai pihak. Buah dari hidup dalam Kristus, Gereja bagaikan sakramen yakni menjadi tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia (LG 1) ini sudah dirasakan akan tetapi belum purna sehingga masih perlu ditumbuhkembangkan lagi. Harapannya, kehadiran Gereja dapat makin terasa dan diterima di kehidupan masyarakat yang multikultur, beragam agama dan kepercayaan, serta perjuangan mengentaskan kemiskinan.

Sejalan dengan penghayatan Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) 2016-2035, dalam menghayati usia ke-sembilan puluh ini, sebagai Mater et Caput (Ibu dan Kepala) yang menjadi induk paroki di Keuskupan Agung Semarang, Gereja SPM. Ratu Rosario Suci Randusari Katedral Semarang sudah sepatutnya menjadi garda depan bagi terwujudnya peradaban kasih. Sembilan puluh tahun merupakan lingkaran perjalanan yang memuat narasi dan sejarah untuk mewujudnyatakan karya keselamatan Allah yang berlangsung tanpa putus. Mewujudkan peradaban kasih adalah rajutan asa yang menyatukan rasa untuk berjalan seiring bersama seluruh elemen masyararakat demi perihidup “bumi dan langit” yang baru di zaman modern dewasa ini. Cerminan peradaban kasih, diluasratakan oleh Keuskupan Agung Semarang melalui semangat inklusif, inovatif, transformatif dalam kerjasama dan sinergi dengan semua orang untuk kesejahteraan.

Sebagaimana fungsi Gereja meneruskan karya Kristus untuk ikut ambil bagian dalam peziarahan yang berisi “kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan” orang-orang zaman sekarang terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita (GS 1), Gereja tertantang untuk melibatkan diri secara lebih serius dalam menjadi berkat yang menampakkan karya keselamatan serta mewartakan Kabar Sukacita bagi setiap pribadi dari pelbagai golongan dan latar belakang serta seluruh alam semesta. Pada usia yang ke-90 tahun ini, kita hendak menuangkan rangkaian perayaan yang memuat selebrasi, aksi, serta refleksi guna memaknai kenangan untuk menuai harapan di masa depan. Indikatornya tercermin dari semangat solidaritas, mau terbuka, menyapa dan srawung dengan sesama (communicatio), serta kuatnya jalinan paguyuban (communio) baik di dalam maupun di luar Gereja.

Dari pelbagai harapan yang bersumber pada dinamika Gereja serta masyarakat Indonesia, pada kesempatan ulang tahun ke-90 ini, Gereja SPM. Ratu Rosario Suci Randusari Katedral Semarang mengangkat tema “Utuh Merengkuh; Terlibat Nyata Berbela Rasa”. Sembilan puluh tahun usia Gereja kita seyogyanya dilihat sebagai usia kematangan baik dalam hidup iman, kepribadian, menuntukan langkah dan tujuan, pengembangan paguyuban serta ketegasan peran. Secitra dengan untaian Rosario, kematangan usia ditampakkan dalam keutuhan dalam menyikapi serta memaknai rangkaian lingkaran kehidupan baik itu peristiwa gembira, sedih, terang, dan mulia. Kata “utuh” juga tercermin dari upaya membangun keharmonisan dan memastikan kerjasama yang saling melengkapi, makin produktif, serta menunjang manfaat serta kualitas (sinergis). Dengan demikian, masing-masing pribadi merasa diri sebagai bagian dari keseluruhan Umat Allah secara terpadu dan tak terpisahkan (integral).

Secara harafiah, merengkuh ialah kata kerja yang diartikan menarik (mendekatkan, meraih) ke arah dada atau tubuh kita serta menjadikan yang lain sebagai bagian terdekat. Sejalan dengan perihidup Bunda Maria, “merengkuh” diwujudkan dalam keterlibatan secara nyata melalui semangat bela rasa yang baik untuk kita refleksikan dan diwujudnyatakan bersama. Bunda Maria ikut ambil bagian secara nyata dalam karya keselamatan melalui kesiapsediaan menjadi ibu Tuhan. “Ikut ambil bagian” memuat tanggungjawab serta menggerakkan untuk turut serta dalam keseruhan hidup Kristus walau “pedang menembus jiwanya (Lukas 2: 34-35)”. Bersama bapa Yusuf, bunda Maria merengkuh bayi Yesus sewaktu pengungsian ke Mesir (Mat 2: 13-23). Keterlibatan nyata dalam semangat berbelarasa Bunda Maria saat menjadi bagian dari paguyuban ditampakkan dalam pesta perjamuan di Kana (Yoh 2: 1-11), terlibat dalam karya pewartaan Kristus (Mrk 3: 31-35), ikut melangkah pada jalan salib, bahkan menemani Para Rasul saat berada dalam nadir krisis iman sepeninggal Yesus (Kis 1:14). Bunda Maria juga sampai saat ini menjadi pelindung Gereja Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci Randusari Katedral Semarang.

Tema “Utuh Merengkuh: Terlibat Nyata Berbela Rasa” akan dilanjutkan dalam seluruh rangkaian acara HUT ke-90 ini supaya makin menampakkan peran serta Gereja sebagai garam dan terang bagi dunia. Tiap-tiap kegiatan yang diselenggarakan kiranya dapat menggugah Umat agar Gereja makin terasa dan diterima dalam konteks keberagaman bangsa Indonesia serta upaya mencapai kesejahteraan bersama. Besar harapan kita, tiap-tiap acara yang mengandung selebrasi, aksi, dan refleksi ini dapat melahirkan semangat Umat untuk merasa diri sebagai bagian dari Gereja dan melibatkan diri dalam aksi nyata melalui semangat bela rasa. Bapa memberkati, Bunda merestui, dan Gereja melengkapi .

Leave a Reply

Your email address will not be published.