Home » Katekese & Renungan » Pertobatan itu Membahagiakan

Pertobatan itu Membahagiakan

Bahagia itu Pilihan

Bapak Ibu yang terkasih, kalau anda harus memilih, dari anak-anak yang disebut dalam bacaan Injil hari ini, mana anak yang hidupnya tidak bahagia? Mana tim anak sulung? Mana tim anak bungsu? Kalau pilihan saya: anak lembu tambun. Tidak salah apa-apa tapi disembelih bagi orang lain. Kan tidak bahagia. Saya mau mengatakan bahwa kedua anak ini adalah dua orang yang sama-sama tidak bahagia, cuma jalan yang diambil berbeda saja. Anak sulung, letak tidak bahagianya adalah ketika dia merasa sudah banyak berjasa kepada bapaknya, sedangkan bapaknya dirasa belum membalas jasanya. Maka, dia marah kepada bapaknya, karena dia mengira bapaknya tidak mengasihi dia. Pilihan itu yang membuat dia jauh dari kebahagiaan. Anak bungsu, letak tidak bahagianya adalah bahwa dia merasa punya hak kekayaan yang besar, maka dia menuntut haknya itu, padahal bapaknya masih hidup. Dan ketika pergi, dia merasa bahwa sumber bahagianya adalah dekat pada bapanya, dan akhirnya dia pulang kembali.

Ulasan Injil

Bapak Ibu yang terkasih, mencermati kisah kembalinya anak yang hilang ini, menarik bahwa sumber kebahagiaan manusia itu adalah Allah sendiri. Artinya, kalau Allah adalah tujuan, maka kebahagiaan itu kalau kita terus menerus berjalan kepada Allah. Kalau Allah adalah rumah, maka bahagia kalau kita tahu jalan pulang. Kalau Allah pusat hidup, maka kebahagiaan itu didapat kalau kita tidak kehilangan pusat hidup kita.

Dan kalau mau tahu, Allah telah menyediakan rasa bahagia itu untuk kita. Yang membedakan adalah pilihan-pilihan hidup kita. Pilihan hidup kita menentukan, apakah kita bahagia atau tidak. Seperti yang tampak pada Si Sulung, persepsi dan sikap kita terhadap hal-hal yang kita miliki dan kita alami ternyata menentukan apakah kita akan berbahagia atau tidak. Dan, seperti yang terlihat pada Si Bungsu, langkah yang kita ambil sungguh menentukan apakah kita akan berbahagia atau tidak. Kita berbahagia jika kita memilih sikap dan langkah yang mengantar kita kepada kebahagiaan, tetapi kita tidak berbahagia jika kita memilih sikap dan langkah yang menjauhkan kita dari kebahagiaan.

Relevansi

Maka, saudara-saudari yang terkasih, ajakan dari Injil ini adalah mengajak kita untuk menemukan jalan-jalan kebahagiaan kita. Dan, salah satu jalan yang diambil adalah pertobatan. Jangan membayangkan bahwa pertobatan itu menyeramkan dan menakutkan, karena nyatanya banyak orang yang tidak mau melakukannya. Namun, bayangkanlah bahwa pertobatan itu akan membawa kita pada kebahagiaan. Maka mari kita melihat tiga hal ini: 

  1. Sadar akan kelemahan dan kerapuhan kita. Karena kelemahan dan kerapuhan kita lah yang kadang membuat kita tidak bahagia. Sekaligus kelemahan dan kerapuhan menjadi akar dari dosa kita. Si anak bungsu, kelemahannya adalah pada kekayaan dan kenikmatan bagi diri sendiri. Si anak sulung, kelemahannya adalah pada penghargaan dan pengakuan orang tua atau orang lain. Lihat karena kelemahan itu dicari pemenuhannya, akhirnya mereka justru tidak bahagia. Maka, mencari dan menyadari kelemahan itu penting.
  2. Bila sudah sadar, maka ya mari kita berbalik dan pulang kepada Allah: memperbaiki diri, belajar jadi orang baik dan berubah. Kalau kita tadi di awal menyatakan tobat, tapi setelah ini masih berbuat dosa atau ngomel pada pasangan di parkiran, kasihan Tuhan ditinggal di gereja saja, sedangkan setan yang menunggu di depan pintu gereja, justru yang diajak pulang. Iya kan, banyak orang tidak bahagia, karena tahu kelemahan tapi tidak memperbaikinya.
  3. Bertobat adalah karunia, termasuk pengampunan dari Allah. Maka, inilah yang selalu kita mohon kepada Allah supaya Allah mencurahkan-Nya kepada kita. Maka, minggu depan kan mulai pengampunan dosa, ya mari kita mohon rahmat itu melalui kesempatan-kesempatan baik yang diberikan. Kalau mengatakan: Ah mengaku dosa pribadi kan cukup, nah berarti kembali ke nomer dua tadi: sadar dosa, tapi tidak mau pulang kepada Allah.

Konklusi

Saudara-saudara yang terkasih, semoga melalui pertobatan yang kita lakukan, kita menemukan sumber kebahagiaan yang sejati yaitu Allah sendiri; dan oleh karena itu kita berani memperjuangkannya, menyadari bahwa kita ini lemah dan rapuh, dan tidak ada apa-apanya di hadapan Allah. Amin.

oleh : Rm. Yoseph Didik Mardiyanto Pr.

Leave a Reply