Home » Katekese & Renungan » MENCINTAI MUSUH, MUNGKINKAH?

MENCINTAI MUSUH, MUNGKINKAH?

Alasan-alasan mencintai?

Saudara-saudara yang terkasih, dalam kehidupan ini, ada sekian banyak alasan orang mencintai. Ya mencintai, perbuatan yang sering kita lakukan, itu baik sadar atau tidak sadar, ternyata ada macam-macam alasannya. Pertama, orang mencintai karena balas budi. Ya, itu yang paling sering terjadi. Seorang anak kepada orang tua, seorang sahabat kepada sahabatnya, seorang yang pernah diberi kebaikan, lalu membalas budi. Ya cinta, karena pernah menerima cinta. Kedua, ini yang bahaya, dan bahkan sering dilakukan tanpa sadar. Cinta karena ada “pamrih”, atau ada udang di balik batu. Cinta yang tidak murni, karena kita mengharapkan sesuatu dari kebaikan yang kita berikan kepada orang lain. Apapun bentuknya: simpati, perhatian balik, pengakuan, bahkan keuntungan dari orang lain. Yang jelas, ada sesuatu yang diharapkan kembali. Ketiga, cinta yang tidak berharap apa-apa. Ya kita mencintai karena ingin mencintai saja, tidak ada alasan yang lainnya.

Mencintai Musuh, Masuk yang Mana?

Hari ini, kita mendengarkan sabda Tuhan yang cukup mengagetkan, karena bentuk cinta yang disampaikan oleh Yesus, berbeda dengan yang tiga tadi, terutama berkaitan dengan tujuan cinta. Yesus mengajak kita untuk mencintai musuh-musuh. Mau mencintai saudara-saudara sendiri saja kadang tidak mudah, la ini harus mencintai musuh. Musuh itu siapa sesungguhnya? Musuh bisa berarti orang yang benar-benar membenci kita, musuh bisa berarti orang-orang yang tidak sependapat dengan kita, bahkan bisa jadi itu adalah sahabat kita sendiri. Musuh adalah orang-orang yang tidak mendapat tempat di hati kita.

Namun, yang paling ingin ditekankan oleh Yesus adalah bahwa mencintai dan mengampuni orang lain, bukanlah jasa kita sebagai manusia, namun sungguh adalah rahmat yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Kalau memandang bahwa mencintai dan mengampuni adalah jasa, maka ketika itu tidak diterima oleh orang lain, lihat apa yang terjadi pada diri kita: marah, kecewa, jengkel, pengen misuh. Nah itu! Kalau kita mencintai dan mengampuni, tapi orang lain tidak berubah, dan lalu kita menjadi kecewa: barangkali kita masih melihat bahwa cinta dan pengampunan adalah jasa yang harus dibayar dan dihargai. Cinta dan pengampunan adalah karunia cuma-cuma dari Allah.

Bagaimana harus Mencintai “Musuh”?

Maka, para saudara yang terkasih; berhadapan dengan musuh-musuh dalam hidup kita. Apa yang kita mesti lakukan? Dua hal yang konkret:

  1. berdoa minta berkat bagi yang benci kepada kita. Kita sering berdoa meminta bahwa orang yang membenci kita mendapat celaka atau pembalasan dari Tuhan. Atau sering berdoa bahwa yang membenci kita, lalu berhenti membenci kita. Tidak, bukan seperti itu. Mestinya, kita berdoa kepada Tuhan supaya orang yang membenci kita tetap mendapat kebaikan dari Tuhan: kebaikan itu salah satunya adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjadi berkat bagi orang lain. Kalau kita minta celaka, bukankah justru kita yang berdosa. Mana ada minta yang jelek pada Tuhan.
  2. tetaplah berbuat baik. Mari kita menggunakan alasan mencintai yang ketiga tadi, bahwa kita mencintai karena ya ingin mencintai saja, tidak ada alasan apapun, tidak ada sakit hati, tidak ada dosa masa lalu, tidak ada kepahitan yang tertinggal. Juga mari kita gunakan “ayat emas” kita, bahwa kalau kita mencintai dan jika tidak diterima, kitanya marah, jangan-jangan kita mencintai karena merasa itu adalah jasa yang harus dibayar, diterima dan diharga. No, cinta dan pengampunan itu adalah karunia dan rahmat dari Tuhan. Kita adalah jalan, sarana dan tanda dari karunia serta rahmat kasih Allah tersebut.

Konklusi

Mari kita mohon rahmat, supaya kita bisa mencintai dengan tulus, dan tidak mengharapkan jasa kembali kepada kita; karena usaha kita adalah menjadi tanda dan sarana kehadiran kasih Allah kepada sesama. Amin.

oleh : Rm. Yoseph Didik Mardiyanto Pr.

Leave a Reply