Breaking News
Home » Renungan » Jalan Menuju Gua Natal

Jalan Menuju Gua Natal

Wah, Hari Natal hampir tiba ya. Tentu kita merasa gem-bira. Kota-kota besar mulai memasang lampu kelap-kelip berwarna-warni. Pohon Natal ada di mana-mana. Toko-toko memutar lagu-lagu Natal dengan keras dan menawarkan diskon besar-besaran agar orang memborong dagangan-nya. Seperti takut tidak kebagian, mereka berlari kesana kemari sibuk berbelanja.

Semua orang ingin memakai baju dan sepatu baru di Hari Natal. Mereka yang berpakaian Santa Klaus membagikan hadiah. Beberapa anak dan remaja bernyanyi-nyanyi sambil memakai topi merah Santa Klaus. Gereja-gereja pun mulai dihias: gua Natal mulai di-buat dan tenda mulai disiapkan, lengkap dengan TVnya. Para anggota koor serta para prodiakon, lektor, misdinar dan petugas tata tertib berlatih dengan penuh semangat sampai larut malam. Pastor, Bruder, dan Suster pun tak ketinggalan. Heboh bukan?

Dalam liturgi Gereja, masa penantian kelahiran Yesus disebut dengan Masa Adven. Apa yang perlu kita siapkan? Tentu saja bukan hanya hal-hal di atas, sebab yang lebih penting adalah menyiapkan hati kita. Kita perlu melihat ke dalam hati kita, berani mengakui kesalahan serta mohon ampun pada Tuhan melalui Sakramen Pengakuan Dosa. Melalui Sakramen Pengampunan Dosa ini, tidak hanya dosa-dosa kita diampuni, namun kita juga akan menerima berkat dari Tuhan sehingga pantas menyambut kehadiran-Nya.

Anak-anak pun dapat diajak mempersembahkan per-buatan-perbuatan baik kepada Yesus. Suatu keluarga sederhana memiliki beberapa anak yang masih bersekolah. Setiap tahun, kira-kira dua minggu menjelang Natal, ke-luarga itu membuat gua Natal dengan sebuah jalan di depannya. Lucunya, jalan itu tidak dibuat dari pasir atau tanah, tapi dari susunan batang korek api yang telah disediakan oleh ayah ibu mereka di samping gua. Anak yang melakukan satu kebaikan, boleh mengambil dan meletakkan satu batang korek api untuk membuat jalan menuju ke gua. Dapat kita bayangkan, tentu mereka berlomba-lomba berbuat kebaikan terhadap orang lain.
Bagaimana dengan Anda dan keluarga Anda? Tentu saja kita boleh memakai baju dan sepatu baru, asalkan hati kita juga

Salam hangat, Teresia

Leave a Reply

Your email address will not be published.