Mencintai Yesus

on .

Tanya :
Romo, apakah mencintai Yesus selalu berarti harus memilih menjadi romo, bruder, suster, atau selibater awam?

Jawab
:
Terima kasih atas pertanyaannya. Kalau kita ingin memahami arti mencintai atau mengasihi Yesus Kristus berarti kita harus siap untuk melakukan beberapa hal yaitu pertama, berani membangun sikap tidak membeda-bedakan.

Itulah sebabnya kita didesak untuk menjadi seperti Tuhan, “yang menerbitkan matahari bagi orang jahat dan orang yang baik; karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.” Kedua, berani mengasihi itu siap untuk tidak meminta alasan apa pun. Cinta itu tidak bersyarat. Ketiga, berani mengasihi berarti berani untuk tidak sadar diri.

Kasih begitu menikmati tindakan mengasihinya sehingga tidak menyadari dirinya sendiri. Berani berkorban dan menyadari bahwa kasih itu ada begitu saja, tanpa objek.

“Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?” Keempat, mencintai Yesus berarti memiliki sikap lepas bebas, kebebasan. Begitu pemaksaan atau kendali atau konflik masuk, kasih mati.

Bayangkan betapa mawar, pohon, lampu membiarkan Anda sepenuhnya bebas. Pohon tidak akan menyeret Anda ke dalam keteduhannya, meski Anda nyaris pingsan kepanasan. Sesaat ingatlah betapa Anda membiarkan orang lain memaksa dan mengendalikan Anda karena Anda ingin mendapatkan cinta serta persetujuan mereka atau karena Anda takut kehilangan mereka.

Karenanya, renungkanlah semua kendali dan pemaksaan dalam kehidupan Anda, dan semoga perenungan itu saja sudah bisa menghentikan keduanya. Begitu kedua hal itu berhenti, kebebasan untuk mencintai muncul. Dan kebebasan hanyalah kata lain dari kasih. Keempat hal diatas adalah usaha dan bentuk ketekunan hati dalam berproses untuk makin mencintai Yesus.

Maka, mencintai Yesus itu tidak identik dengan menjadi romo, bruder, suster atau selibater awam. Itu semua adalah sarana atau cara hidup agar makin mencintai Yesus secara total dalam hidup membiara atau tidak menikah. Semoga membantu.

Salam dan berkah Dalem. Romo Paroki.....

Bahan bacaan: Anthony De Mello, “The Way to Love: 31 Meditasi terakhir”, Kompas Gramedia, Jakarta 2011,

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 57 guests and no members online

Visitors Counter

0626059
Hari ini
Kemarin
454
381