Sejarah Katedral : Pelayanan Dan Karya (3)

on .

Kesemarakan pelayanan iman ini kiranya semakin membutuhkan tenaga-tenaga baru. Hadirnya para Bruder FIC yang memulai karya misinya di Semarang tahun 1934 (26 Juli 1934) menjadi salah satu jawabannya. Karya misi mereka lebih difokuskan pada bidang pendidikan.

Semakin berkembangnya karya misi ini menjadi salah satu alasan mengapa gereja perlu diremajakan, dipugar dan didirikan yang baru dan lebih besar lagi. Maka, tahun 1935, bangunan lama mulai dibongkar. Arsitek T.H. van Oyen dan anemer Kleiverde dipercaya sebagai penanggung jawab pembangunan gereja yang baru. Tahun 1937, gereja baru untuk jemaat di Randusari selesai dibangun. Pada 31 Juli 1937 gereja ini diberkati oleh Mgr. Willeken, SJ, Vikariat Apostolik Batavia kala itu.

Sungguh kebahagiaan yang amat besar dan hanya pujian kemuliaan kepada Tuhan yang dapat diungkapkan atas semakin maju dan semaraknya pelayanan karya keselamatan ini. Kebahagiaan ini semakin bertambah dengan pengukuhan Vikariat Apostolik Semarang, terlepas dari Vikariat Apostolik Jakarta. Dan tanggal 25 Juni 1940, Gereja Randusari ditetapkan sebagai Gereja Uskup, gereja Katedral. Selain karena letaknya yang strategis, dekat dengan pusat pemerintahan, berada di jalur Jalan Deandels, juga karena perkembangan umat yang semakin semarak. Sebagai uskup pertama, ditunjuklah Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. 

Awal-awal masa pelayanan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, tidaklah mudah dijalani. Hal itu bermula ketika tentara Jepang datang ke Semarang pada tanggal 7 Maret 1942. Berkecamuknya Perang Dunia II dan perang Asia Raya membuat pemerintah Hindia Belanda semakin panik dan banyak meninggalkan Semarang. Semarang kini dikuasai oleh tentara Jepang. Orang-orang Eropa diantaranya juga para uskup, pastor, bruder, suster, banyak yang dijebloskan ke penjara. Melihat kejadian ini, Mgr. Soegijapranata tidak tinggal diam.

Kegelapan itu akhirnya berpuncak pada peristiwa yang dikenal dengan Pertempuran Lima Hari di Semarang, tanggal 14-19 Oktober 1945. Pertempuran sengit antara pemuda-pemuda Indonesia dan tentara Jepang itu terjadi di daerah Randusari dan sekitarnya. Pada peristiwa ini, gereja Katedral memegang peranan yang cukup penting khususnya dalam penyediaan logistik dan bahan-bahan makanan. Akhirnya, pertempuran sengit yang banyak memakan korban ini berakhir. Dan untuk mengenang peristiwa itu didirikanlah Tugu Muda pada tahun 1951.

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 54 guests and no members online

Visitors Counter

0685873
Hari ini
Kemarin
241
534