Sejarah Katedral : Asal Mula Katedral (1)

on .

Tanggal 20 September 1843 Batavia ditetapkan sebagai Vicariat Apostolic oleh Tahta Suci dan mengangkat Mgr. J. Grooff, yang berasal dari Suriname, sebagai Vicaris Apostolic, yang mempunyai tiga paroki besar yaitu: Batavia, Semarang, dan Surabaya. (Paroki Semarang yang berpusat di Gedangan mempunyai tiga gereja stasi yaitu: Candi (1915), Randusari (1927), dan Bangkong (1932)).

Tahun 1848, Mgr. Vrancken, pengganti Mgr. J. Grooff datang ke Semarang dan berjanji akan membangun gereja yang layak. Janji itu terlaksana pada tanggal 12 Desember 1875 dengan diresmikannya sebuah gereja baru bergaya neogotik di Kloosterstraat, yang sekarang dikenal dengan sebutan Gereja Gedangan, yang berada di kompleks Kota Lama, digunakan untuk melayani kebutuhan iman orang-orang Eropa di Semarang.

Selain pelayanan iman di Semarang juga dibutuhkan pelayanan sosial. Atas usaha Mgr. Lijnen, Pr, pada tanggal 5 Pebruari 1870 para suster OSF dari Heythuisen tiba di Semarang. Tugasnya menangani rumah yatim piatu, yang munculnya disebabkan oleh adanya penyerahan dua anak kepada PGPM (Pengurus Gereja Papa Miskin) pada tahun 1809. Sejak itu sampai dengan tahun 1830 sudah anak 60 anak, sehingga pada tahun 1828 PGPM mempunyai  rumah khusus bagi para yatim piatu ini. Tahun 1874 panti asuhan ini resmi diakui oleh pemerintah dan mendapatkan subsidi. Karena perkembangan yang amat cepat, tahun 1912 mulai dibangun panti asuhan baru di daerah Candi. Pada 26 September 1915 pembangunan panti asuhan dan gereja di Candi selesai. Sejak saat itu juga, gereja itu mendapatkan pastor dan menjadi paroki tersendiri.

Di pertengahan abad ke-18, yang dinamakan Kota Semarang hanyalah yang sekarang dikenal dengan nama Kota Lama. Sesudah pertengahan abad 18, kota Semarang semakin berkembang. Makin banyak orang Eropa yang datang. Mereka mulai keluar dari kawasan Kota Lama dan membangun rumah-rumah dan kebun-kebun luas ke arah Jalan Bojong (sekarang Jl. Pemuda). Bahkan rumah residen dan rumah gubernur yang diberi nama “De Vredestein” (Istana Perdamaian), dibangun di kawasan ini. Kota semakin ramai. Tuan-tuan Belanda, para pedagang yang kebanyakan tionghoa serta pedagang tradisional memenuhi Semarang. Transportasi kota menggunakan mobil, dokar dan tak lupa city tram. Lawang Sewu atau gedung kantor NIS adalah peninggalan kebesaran perusahaan kereta kota itu.

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 99 guests and no members online

Visitors Counter

0660957
Hari ini
Kemarin
106
261