Sungguh Allah dan sungguh manusia (lanjutan)

Bidaah Nestorian melihat dalam Kristus satu pribadi manusiawi yang digabungkan dengan Pribadi Putera Allah yang ilahi.

Untuk melawan ajaran salah ini, Santo Sirilius dari Aleksandria dan konsili ekumenis ketiga berkumpul di Efesus pada tahun 431 mengakui bahwa, “Sabda menjadi manusia... dengan cara mempersatukan daging yang dijiwai jiwa berakal dengan diriNya sendiri menurut hupostasis (pribadi).

 

Kodrat manusiawi Kristus tidak memiliki subyek lain kecuali pribadi ilahii Putera Allah, yang menerimanya dan sudah menjadikannya milikNya pada waktu Ia dikandung. Karena itu, Konsili yang sama mengumumkan bahwa Maria, karena ia mengandung Putera Allah dalam rahimnya, benar-benar menjadi Yang melahirkan Allah, bukan karena kodrat Sabda atau dengan lebih tepat ke-Allah-an-Nya menerima awal keberadaanNya dari perawan yang kudus, melainkan karena tubuh kudus yang dijiwai dengan jiwa yang berakal budi dilahirkan dari dia; dengan tubuh itu, Sabda mempersatukan diri menutut hupostasis (pribadi) dan karena itu dikatakan tentang Dia bahwa Ia dilahirkan dari daging.

Dalam pengajaran ini, mau ditegaskan bahwa dalam diri Yesus nyata bahwa Ia sungguh Allah dan sungguh manusia. Diajarkan pula dalam Konsili Efesus, bahwa Maria disebut sebagai Bunda Allah.

(sumber Katekismus Gereja Katolik, no 466)

Add comment


Security code
Refresh

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 205 guests and no members online

Visitors Counter

0700887
Hari ini
Kemarin
582
1132