Sungguh Allah dan sungguh Manusia

Peristiwa inkarnasi Putera Allah yang unik dan yang terjadi hanya satu kali, tidak berarti Yesus Kristus sebagiannya Allah dan sebagiannya manusia atau bahwa peristiwa itu merupakan pencampuradukan yang tidak jelas antara yang ilahi dan yang manusiawi.

 

Ia dengan sesungguhnya telah menjadi manusia dan sementara itu, Ia tetap Allah dengan sesungguhnya. Yesus Kristus adalah Allah benar dan manusia benar. Selama abad-abad pertama, Gereja harus membela dan menjelaskan kebenaran iman ini terhadap bidaah yang menafsirkan secara salah.

Bidaah-bidaah pertama kurang menyangkal ke-Allah-an Kristus daripada kemanusiaan-Nya yang benar (Diketisme gnotis). Sudah sejak waktu para Rasul, iman Kristen menegaskan inkarnasi benar dari Putera Allah, yang datang mengenakan daging.

Tetapi dalam abad ke-3, Gereja sudah harus menegaskan dalam konsili yang berkumpul di Antiokia melawan Paulus dari Samosata, bahwa Yesus Kristus adalah Putera Allah menurut kodrat-Nya dan bukan melalui adopsi.

Dalam Kredonya, konsili ekumenis pertama th 325, Konsili Nisea, mengakui, bahwa Putera Allah dilahirkan bukan dijadikan, sehakikat (homousios) dengan Bapa. Ia menghukum Arius, yang menyatakan bahwa Putera Allah dari ketiadaan dan dari substansi atau hakikat lain daripada Bapa.

(sumber katekismus Gereja Katolik no 464-465).

Add comment


Security code
Refresh

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 63 guests and no members online

Visitors Counter

0685883
Hari ini
Kemarin
251
534