API PENYUCIAN ITU APA dan DIMANA? (2)

Api Penyucian2. Dalam Kitab Suci kita menemulan beberapa unsur yang dapat membantu kita untuk mengerti arti dari doktrin Api Penyucian ini, meskipun tidak secara jelas dirumuskan. Data Kitab Suci itu mengungkapkan keyakinan bahwa kita tidak dapat mendekati Allah tanpa melakukan semacam pemurnian.

Menurut hukum Perjanjian Lama, apa yang diperuntukkan bagi Allah harus sempurna. Dan konsekuensinya, keutuhan fisik juga secara khusus menuntut agar apa saja yang akan berkontak dengan Allah sebagai korban persembahan, misalnya, hewan korban, harus sempurna (Im. 22:22) atau jabatan rohani juga, misalnya imam-imam pelayan ibadah (Im. 21:17-23).

Kesempurnaan dituntut pula bagi pelayanan penuh kepada Allah Perjanjian, sesuai dengan pengajaran yang ditemukan dalam Kitab Ulangan (Ul. 6:5) ditutut pula integritas fisik bagi setiap manusia baik perorangan maupun masyarakat (bdk I Raj. 8:61). Di sini persoalannya adalah mengasihi Allah dengan seluruh diri, dengan kemurnian hati dan dengan kesaksian tindakan (bdk I Raj. 10: 12 dst).

Kebutuhan akan integritas diri jelaslah menjadi sangat penting setelah kematian supaya dapat masuk ke dalam persatuan sempurna dengan Allah. Mereka yang belum memiliki keutuhan (integritas) itu harus menjalani pemurnian. Hal itu dinyatakan juga dalam surat-surat St. Paulus. Ia berbicara tentang nilai dari pekerjaan setiap orang yang akan dinyatakan pada hari penghakiman: “Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” (1Kor 3:14-15.)

3. Sering terjadi bahwa untuk mencapai keadaan integritas sempurna, pengantaraan atau mediasi seseorang diperlukan. Contonya, Musa memperoleh pengampunan Allah bagi umatnya melalui doa di mana ia mengingat-ingat kembali karya-karya penyelamatan Allah pada masa lalu, dan berdoa atas dasar kepercayaan akan kesetiaan Allah akan janji yang Ia ucapkan kepada nenek moyang mereka (Kel. 32: 30, 11-13). Figur Hamba Yahwe yang dinyatakan dalam Kitab Yesaya juga menyatakan peran
pengantaraan dan silih bagi banyak orang; pada akhir penderitaannya ia akan melihat cahaya dan akan membenarkan banyak orang dengan membawa
sendiri kesalahan mereka (bdk Yes. 52: 13-53; 12 dan khususnya 53:11). Dalam perspektif PL, Mazmur 51 bisa pula dipertimbangkan sebagai rangkuman dari suatu proses reintegrasi: pendosa mengakui kesalahan-kesalahannya (ayat. 3) mohon secara sungguh-sungguh untuk disucikan dan dibersihkan (ay. 2, 9, 10, 17) sehingga dapat menyerukan kemuliaan Allah (ayat 15).

Api Penyucian bukanlah suatu tempat, melainkan kondisi keberadaan.

Add comment


Security code
Refresh

Comments   

 
0 #1 Mbilung 2012-11-26 23:18
mengerikan yaaaaa
Quote
 

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 167 guests and no members online

Visitors Counter

0700838
Hari ini
Kemarin
533
1132