Mengenal Lectio Divina

Pada Bulan Kitab Suci Nasional tahun ini, Gereja mengajak kita merenungkan sabda Tuhan dengan metode Lectio Divina. Rasanya baik kalau di awal bulan ini kita sedikit mengenal metode doa ini. Tradisi Gereja Katolik, “lectio divina” hadir untuk membantu umat beriman kepada persahabatan dengan Tuhan. Caranya, dengan mendengarkan Tuhan berbicara melalui sabda-Nya. Lectio divina berarti bacaan rohani. Bacaan rohani terutama dari Kitab Suci. Maka, lectio divina adalah cara berdoa dengan membaca dan merenungkan Kitab Suci guna mencapai persatuan dengan Tuhan. Kita diajak untuk membaca, merenungkan, mendengarkan, dan akhirnya berdoa berdasarkan sabda Tuhan. Penghayatan sabda Tuhan ini akan membawa kepada kesadaran akan kehadiran Allah yang membimbing hidup. Jika kita rajin melaksanakannya, kita akan mengalami eratnya persahabatan yang erat dengan Allah.

Proses  Lectio Divina menyangkut empat hal: 

1.      Lectio (Membaca)

Membaca di sini bukan sekedar membaca tulisan, melainkan membuka diri terhadap Sabda. Kita membiarkan Kristus berbicara. Maksud kita membaca bukan sekedar untuk pengetahuan tetapi untuk perubahan dan perbaikan diri. Maka, saat kita sudah menentukan bacaan yang akan kita renungkan, kita dapat membacanya dengan kesadaran bahwa ayat-ayat tersebut sungguh ditujukan kepada kita. Kita mencoba menemukan ayat, kata atau ungkapan yagn menarik untuk direnungkan.

2.      Meditatio (Meditasi)

Meditatio dalam konteks ini dilakukan dengan mengulang kata-kata ataupun frasa yang menarik perhatian. Ini bukan pelatihan pemikiran intelektual di mana kita menelaah teksnya, tetapi kita menyerahkan diri kita kepada pimpinan Allah. Dengan pengulangan tersebut, Sabda itu menembus batin kita. Kita mengingatnya sebagai sapaan Allah. Kita merenung-renungkan, “Apa arti sabda Allah ini bagi hidupku?”

3.      Oratio (berdoa)

Doa adalah tanggapan hati kita terhadap sapaan Tuhan. Setelah dipenuhi oleh Sabda yang menyelamatkan, maka kita memberi tanggapan. Maka seperti kata St. Cyprian, “Melalui Kitab Suci, Tuhan berbicara kepada kita, dan melalui doa kita berbicara kepada Tuhan.” Maka di sini kita mengalami komunikasi dua arah.

4.      Contemplatio (renungan dng kebulatan pikiran atau perhatian penuh)

Saat kita setia melakukan tahapan-tahapan ini, ada saatnya kita mengalami kedekatan dengan Allah. Kesadaran kontemplatif akan kehadiran Allah yang tak terputus ini adalah sebuah karunia. Ini bukan hasil dari usaha kita ataupun penghargaan atas usaha kita.

 

Bagaimana caranya memulai Lectio Divina

1.      Ambillah sikap doa, bawalah diri ke hadirat Allah. Mohonlah agar Tuhan memimpin dan mengubah hidup kita melalui bacaan Kitab Suci.

2.      Mohonlah kepada Roh Kudus membantu memahami perikop itu dengan benar.

3.      Bacalah perikop Kitab Suci tersebut secara perlahan dan dengan seksama. Jika mungkin ulangi beberapa kali.

4.      Renungkan untuk beberapa menit, akan satu kata atau ayat atau hal-hal yang disampaikan dalam perikop tersebut dan tanyakanlah kepada diri kita sendiri, “Apakah yang diajarkan oleh Allah melalui perikop ini kepadaku?”

5.      Anda bisa menuliskan hasil renungan itu, baik yang berupa syukur atas pengalaman hidup tertentu, ataupun permohonan untuk hidup selanjutnya.

6.      Khusus untuk bulan Kitab Suci ini, karena lectio Divina dilakukan bersama-sama, maka dibutuhkan yang namanya sharing dan peneguhan bersama. Apa yang dituliskan lalu dibagikan agar nantinya menjadi pengalaman yang saling meneguhkan dalam kebersamaan.

7.      Tutuplah doa dengan satu atau lebih resolusi/keputusan praktis yang akan kita lakukan, dengan menerapkan pokok-pokok ajaran yang disampaikan dalam perikop tersebut di dalam hidup dan keadaan kita sekarang ini.

Apa buah-buah dari Lectio divina?

Buah-buah dari Lectio divina adalah Compassio dan Operatio. Dengan persatuan kita dengan Tuhan, maka kita membuka diri untuk lebih memperhatikan dan mengasihi sesama dan ciptaan Tuhan yang lain. Hidup kita menjadi hidup yang berdasarkan keyakinan akan karya Tuhan. Bukankah ini artinya, hidup dengan berpegang pada Tuhan? Bukankah ini sesuai dengan tulisan St. Yakobus, “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna (bdk. Yak 2:22).”

Disadur dari http://katolisitas.org/2376/lectio-divina

Add comment


Security code
Refresh

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 85 guests and no members online

Visitors Counter

0660942
Hari ini
Kemarin
91
261