Kaidah-kaidah berdasarkan hakekat Liturgi Sebagai Tindakan Hirarki dan Jemaat

Upacara-upacara liturgi bukanlah tindakan perorangan, melainkan perayaan Gereja sebagai sakramen kesatuan, yakni Umat kudus yang berhimpun dan diatur di bawah para Uskup.

Maka upacara-upacara itu menyangkut seluruh Tubuh Gereja dan menampakkan serta mempengaruhinya; sedangkan masing-masing anggota disentuhnya secara berlain-lainan, menurut keanekaan tingkatan tugas serta keikutsertaan aktual mereka (Sacrosanctum Consilium, Konstitusi tentang Liturgi Suci, 26)

Setiap kali suatu upacara, menurut hakekatnya yang khas, diselenggarakan sebagai perayaan bersama, dengan dihadiri banyak Umat yang ikt serta secara aktif, hendaknya ditandaskan, agar bentuk itu sedapat mungkin diutamakan terhadap upacara perorangan yang seoalh-olah bersifat pribadi. Terutama itu berlaku bagi perayaan Misa, tanpa mengurangi kenyataan, bahwa setiap Misa pada hakekatnya bersifat resmi dan umum, begitu pula bagi pelayanan Sakramen-Sakramen (SC 27)

Upacara liturgi adalah perayaan syukur Gereja yang merupakan perayaan bersama bukan personal. (bdk. Kis 2:42.46-47; 1 Kor 10:17). Maka, dalam konteks ini keterlibatan seluruh umat dalam perayaan menjadi penting. Umat yang hadir bukan sebagai penonton atau orang luar. Namun menjadi bagian dalam perayaan tersebut. Umat beriman ikut merayakan upacara liturgi dengan sadar, aktif, dan penguh makna, sebagai usaha atau upaya pengudusan.

Add comment


Security code
Refresh

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 45 guests and no members online

Visitors Counter

0660902
Hari ini
Kemarin
51
261