“Iman Itu Personal”

Pernyataan itu diucapkan Rm. FX. Agus Suryana Gunadi, Pr dengan mantap. Romo kelahiran Bantul, 3 Agustus 1964 ini, sejak 15 Januari 2013 menjadi pastor pembantu di Paroki Administratif St. Petrus Sambiroto. Ia ditahbiskan menjadi iman tahun 1994. Berikut petikan wawancara BERKAT dengan Romo yang pernah dipanggil KWI untuk mengisi kekosongan fungsi sekretaris eksekutif Komisi Kerawam KWI selama 5 tahun, beberapa waktu lalu.

 

Menurut Romo, iman yang dimiliki umat saat ini apakah sudah mencerminkan iman yang tangguh?
Iman itu personal, hubungan pribadi dengan Tuhan. Siapa yang bisa mengukurnya? Dengan ukuran apa iman dinilai? Aktivitas gerejani dan sosial kemasyarakatan hanyalah menjadi tanda, tetapi darinya kita tidak bisa menilai bahwa iman si A lebih baik dari si B karena si A lebih banyak hadir di aneka aktivitas agama dan sosial.
Iman artinya mengandalkan Tuhan, pasrah sumarah pada kersa Dalem Gusti. Sejauh terungkap dalam berbagai sharing, banyak umat kita yang memang mengandalkan hidupnya pada Tuhan. Mereka rela mengalami jatuh bangunnya hidup, sengsara dan duka karena tekanan sosial dan ekonomi, dan tetap berpengharapan bahwa ‘Gusti ora sare’.

Kalau tingkat keimanan umat sendiri?
Kita mesti bersyukur atas semangat hidup umat kita pada umumnya. Tawaran perayaan-perayaan iman selalu direspon positif. Paguyuban lingkungan, paroki, maupun kategorial hampir selalu berlimpah partisipan. Kegiatan-kegiatan amal dan sosial dihidupi secara nyata di tengah masyarakat. Lihatlah gerak umat kita ketika masyarakat mengalami bencana. Sebut saja ketika gempa bumi di Jogja, Mei 2006, atau ketika Gunung Merapi meletus dua tahun lalu. Respon mereka sangatlah luar biasa, dan ini dirasakan oleh masyarakat korban. Bukankah ini menjadi tanda betapa dewasanya umat kita beriman kepada Allah. Penuh rasa syukur, mereka rela dipakai Allah untuk menjadi tanda dan sarana keselamatan bagi sesama! Inilah iman.

Kalau kita melihat dunia saat ini penuh dengan aneka tawaran yang tampaknya menarik tapi itu justru tidak mengembangkan iman umat. Bagaimana sikap kita agar tidak mudah terjebak di dalamnya?
Kadang-kadang kita under-estimate atas sikap umat beriman menghadapi gegap gempitanya tawaran dunia. Padahal banyak di antara kita yang karena telah dewasa dalam iman, menyikapi tawaran dunia dengan penuh kebijaksanaan dan mendasarkan diri pada dasar iman yaitu Injil. Memang ada yang larut dalam hingar-bingarnya dunia dan menomor-duakan Tuhan. Namun saya kira, kebanyakan tidaklah demikian. Sekali lagi, jangan mengukur kedewasaan iman seseorang dari aktivitas (gerejani) yang kelihatan. Banyak kaum awam yang sadar akan perutusannya untuk menyucikan dunia, sehingga bahkan tidak sempat menjadi aktivis Gereja, namun dalam profesi mereka sungguh memberi kesaksian kepada sesama tentang imannya. Ini sangatlah hebat. Namun demikian, tetaplah kita saling mengingatkan dan meneguhkan supaya tidak terlena dan terpesona oleh tawaran negatif dunia. Di situlah peran paguyuban Gereja.

Orang masih mengatakan kita itu kelompok minoritas. Bagaimana caranya, meskipun minoritas tetapi kita bisa menjadi garam tidak terus malah pasif. Pendapat Romo tentang hal ini?
Ada bahaya minority complex. Takut pada status sebagai minoritas. Akibatnya, dia tidak bisa mengembangkan daya cipta bagi mayoritas (baca= masyarakat). Adanya hanya ketakutan dan seolah-olah selalu terancam keberadaannya. Namun secara general, umat katolik Indonesia tidaklah demikian. Sekalipun kelompok minor, peran mereka di tengah mayoritas sungguh luar biasa. Ada banyak yang dipercaya menjadi pemimpin dalam masyarakat. Tidak sedikit yang gagasan dan tandang-gawenya sungguh menggarami masyarakat. Dan lihatlah gerakan mereka pada karya-karya sosial kemanusiaan: sangat luar biasa! Bantuan pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, gerakan sosial lainnya. Bukankah itu lahir dari iman yang kokoh?

Menurut Rromo agar iman umat bisa mendalam dan tangguh, apa yang mesti dilakukan?
Tuhan itu mendewasakan iman kita melalui pengalaman sehari-hari. Setiap hari kita dihadapkan pada aneka tantangan hidup. Ekonomi yang tidak selalu menjamin, pekerjaan yang tidak menjanjikan, olok-olok tetangga hanya karena beda keyakinan, diskriminasi sosial dan hukum, pembatasan hak karena kita minoritas, dan sebagainya. Atas aneka tantangan itu, kepada siapa kita mengandalkan hidup? Bukankah kepada Tuhan yang peduli dan memihak kita? Itulah yang membuat iman tangguh.
Selebihnya, memang kita harus melakukan otokritik terhadap lembaga agama kita yang disebut Gereja. Gereja yang acap kali didefinisikan sebagai organisme yang hidup, bisa jadi sudah bergeser menjadi sebuah organisasi baku yang kaku. Sekarang ini terasa sekali betapa tuntutan administrasi program, keuangan, dan lain-lain cukup menyita sebagian energi para pemangku pelayanan gerejani. Kalau tidak waspada, hal-hal yang paling elementer dalam pelayanan gereja seperti ibadah yang hidup, pewartaan yang intensif, penggembalaan yang menemani, pelayanan sakramen yang murah hati, teladan kebersahajaan hidup, terlupakan. Kalau ini benar, kita sedang berada di ambang keruntuhan. Mungkin berkurangnya jumlah umat katolik dari tahun-tahun selama 10 tahun terakhir (data berbicara), di antaranya adalah akibat keringnya sentuhan personal dan emosional gembala kepada dombanya, atau struktur oganisasi lembaga Gereja (istilah yang totally wrong) kepada jemaat yang ‘dikelola’nya.

Saran atau usul romo melihat keadaan seperti ini baik untuk gembalanya sendiri maupun umat?
Apa sih yang dirindukan oleh umat dari para gembalanya? Mereka merindukan teman sepeziarahan. Mereka membutuhkan gembala yang bisa meneguhkan dan menguatkan umatnya. Sebab beban hidup yang harus mereka pikul dari hari ke hari semakin berat. Mereka membutuhkan sapaan personal, dikenal dengan namanya, dan dipahami pergulatannya, dan didoakan. Itulah yang diteladankan oleh Tuhan Yesus, itulah pula yang diceritakan dalam perumpamaan antara gembala dan domba-dombanya. Singkat kata: kehadiran!
Namun apa yang kita alami sekarang ini? Semakin ada garis imajiner yang tegas antara organisasi Gereja dengan segala kesibukan yang tiada habis, dan umat biasa yang hampir tidak bisa teriak karena kehausan akan kerinduan yang tak terpenuhi.

Dari hierarki sendiri menuntut kami sebagai awam harus seperti ini. Akhirnya kita juga terjebak, kita disibukkan juga sehingga tanpa sadar iman menjadi kering. Kalau menurut Romo kita sebagai awam itu bagaimana?
Betul! Kalau kita tidak waspada, kita kering di tengah padatnya kegiatan gerejani. Seolah-olah apa yang sedang kita kerjakan adalah aktivitas iman. Dengan harapan dengan partisipasi kita, iman kitapun tersirami kesejukan pengharapan dan kehadiran Allah. Nyatanya, banyak orang tetap merasa kering; kegiatan ‘rohani’ dan gerejani tidak menjawab kebutuhan dasar batinnya; kita tetap merasakan adanya ruang kosong dalam batin, yang tidak pernah terisi; tetap ada sesuatu yang kita rindukan, namun nyatanya tidak pernah kita temukan.
Jadi? Mari bertobat bersama-sama! Menghidupi relasi yang hangat dan saling meneguhkan dalam paguyuban, antar anggota dan dengan gembala. Dengan tetap menganggap penting aneka urusan administrasi, dokumentasi, pelaporan, monitoring dan evaluasi,dan sebagainya, tanpa terjebak di dalamnya.

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 37 guests and no members online

Visitors Counter

0669925
Hari ini
Kemarin
71
312