Menemukan Hidup Baru Saat Tak Berdaya

Sosok - Irwan Hidayat
Sosoknya dikenal masyarakat sebagai seorang pengusaha sukses dengan berbagai macam kegiatan yang ditujukan bagi orang-orang kecil. Sebagai Direktur Utama PT. Sido Muncul yang memiliki karyawan lebih dari 2.000 orang, dikenal hingga taraf internasional dan banyak menerima penghargaan, J. Irwan Hidayat tetap merasa bahwa dirinya sama dengan orang lain.
 

DATA PRIBADI

Nama : J. Irwan Hidayat
Tempat, tgl lahir : Yogyakarta, 23 April 1947
Tempat tinggal : Jl. Cipete Raya 81, Jakarta 12410
Istri : M. Shinta Ekoputri Sujarwo
Anak : 1. Y. Maria Reviani Hidayat
2. M. Mario Arnaz Hidayat
3. J. Marco Jonathan Hidayat
Pekerjaan : Direktur Utama PT Sido Muncul
Mulai tahun 1972 - sekarang

Ia merasa hidupnya biasa-biasa saja, mengalir dan tidak ada yang istimewa. Apa yang dirasakan seorang Irwan Hidayat ini tentu tidak datang dengan tiba-tiba. Semua melalui proses panjang dan buah refleksi pengalaman hidup yang dialaminya.

Lahir di kota Yogyakarta tahun 1947, Irwan kecil tinggal bersama neneknya, Rahkmat Sulistio, yang menekuni usaha jamu rumahan. Industri rumah tangga ini mulai dirintis tahun 1940.

Tahun 1949 semua pindah ke Semarang dan usaha jamu pun tetap berjalan hingga akhirnya tahun 1951 didirikan perusahaan sederhana dengan nama Sido Muncul yang memiliki arti “Impian Yang Terwujud”.

Saat usia 19 tahun menjadi masa yang paling berat karena Irwan menderita sakit yang tak berkesudahan. Berawal dari sakit malaria hingga silih berganti penyakit menyerang tubuhnya dari typus, paru-paru, ginjal, hipertensi, diabetes dan yang paling berat saat mengalami depresi. Hampir selama satu tahun (Desember 1967-Desember 1968) ia harus berjuang melawan berbagai macam penyakit yang menyerang tubuhnya.

Namun bila Tuhan berkehendak, segala sesuatu tidak ada yang mustahil. Segala cara yang diupayakan untuk sembuh dari sakit akhirnya membuahkan hasil. Dari peristiwa sakit inilah yang menggugah Irwan muda sampai sekarang berupaya agar hidupnya dapat bermanfaat bagi orang lain.

Tidak hanya sekedar rasa empati yang muncul dari dalam hati saat melihat orang lain mengalami kesusahan namun ikut merasakan dan membayangkan “seandainya aku ada di posisi mereka”. Keberpihakan kepada orang-orang kecil ditunjukkan dengan mengunjungi mereka yang menderita dan tertimpa musibah.

Dengan berpihak kepada orang kecil menyadarkannya bahwa orang hidup tidak boleh serakah. Harus mengalah terhadap yang lemah. Meskipun memiliki kekuasaan tetap harus mengalah kepada kaum yang terpinggirkan. Tidak perlu saling mengganggu. Seandainya harus bertanding, harus bertanding dengan orang yang memiliki level sama.

Jika kekuasaan digunakan untuk mengalahkan orang kecil maka kemenangan yang diperoleh bukanlah kemenangan yang terhormat, karena levelnya sudah beda. Menurut Irwan, secara manusiawi orang hidup pasti memiliki cita-cita punya banyak uang dan hidup dengan tenteram. Kenyataannya, banyak orang yang memiliki segudang uang tetapi hidupnya tidak tenteram. Penyebabnya adalah karena keserakahan mulai menguasai dirinya.

Selain peristiwa sakit yang mengubah pandangan hidupnya, keseharian Irwan Hidayat juga terinspirasi oleh Ibu Theresa. Ia mengenal sosok Ibu Theresa 22 tahun yang lalu. Saat ini istrinya, Shinta Hidayat, juga masih aktif terlibat di Kerabat Kerja Ibu Theresa (KKIT). Kata-kata Ibu Theresa yang menginspirasi hidupnya, “Jika kamu tidak berguna bagi orang lain, maka hidupmu akan sia-sia”.

Bagi Irwan menghayati Kitab Suci akan terasa mudah dengan cara meneladan Ibu Theresa. Irwan juga memiliki ayat Kitab Suci yang mendasari kepeduliannya kepada orang-orang yang tidak mampu. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40). Saat diterapkan dalam perusahaannya, Irwan mengatakan bahwa jika perusahaan tidak bermanfaat bagi masyarakat maka perusahaan itu tidak berguna.

Hal itu tertuang dalam visi PT. Sido Muncul yang dibuat tahun 1999, yaitu menjadi industri jamu yang dapat memberikan manfaat pada masyarakat dan lingkungan.

Meski visi perusahaan baru dituangkan tahun 1999, jiwa peduli kepada sesama telah tertanam dalam diri Irwan sejak lama. Ini dibuktikan dengan program mudik gratis bagi para pedagang jamu yang dirintis tahun 1991. Pedagang jamu merupakan ujung tombak pemasaran produk-produk PT. Sido Muncul. Mereka pantas mendapatkan penghargaan atas jasanya.

Sempat terpikirkan untuk memberikan THR (Tunjangan Hari Raya). Namun bila ucapan terima kasih itu hanya berupa uang maka kurang bisa mengena sampai keluarga mereka. Maka muncullah ide dengan memberikan fasilitas mudik gratis agar para pedagang ini dapat menikmati lebaran berkumpul bersama keluarganya.

Ide ini didukung penuh oleh keluarga besar Irwan dan akhirnya dapat berjalan dengan lancar. Hingga sekarang program ini menjadi program rutin dan tiap tahunnya makin bertambah jumlah pesertanya.

Kepedulian terhadap orang-orang yang berkekurangan juga ditunjukkan dengan adanya program operasi katarak gratis. Data dari Dinas Kesehatan yang menyebutkan bahwa penduduk Indonesia 2,5 juta/tahun menderita katarak, menjadi keprihatinan Irwan juga. Irwan mengatakan bahwa dalam program operasi katarak gratis yang sangat berjasa bukan perusahaannya tetapi pihak rumah sakit dan para dokter, karena mereka dengan tulus membantu tanpa mengharapkan imbalan. Padahal jika melayani operasi katarak biasanya rumah sakit dan dokter akan dibayar mahal.

Ketidakmerataan pembangunan di negara Indonesia juga tidak luput dari perhatian Irwan. Sudah menjadi hukum alam, matahari terbit dari timur dan terbenam di barat. Ini gambaran ideal pembangunan yang seharusnya dilakukan di negara ini.

Namun kenyataannya, pembangunan banyak difokuskan di sisi barat sedangkan sisi timur diabaikan. Sisi timur yang memiliki banyak kekayaan hanya diambil hasil alamnya untuk semakin mengembangkan sisi barat.

Pengambilan yang terus-menerus dan secara besar-besaran ini mengakibatkan Indonesia Timur tertinggal jauh dari Indonesia Barat, baik dalam bidang pembangunan, pendidikan maupun ekonomi masyarakatnya. Hal ini yang akhirnya menyebabkan kesenjangan sosial.

Melihat keprihatinan ini Irwan mencoba mengangkat kekayaan yang dimiliki Indonesia Timur terutama pariwisata ke tingkat nasional dan internasional. Irwan berharap dengan mengangkat sektor pariwisata akan berpengaruh pada ekonomi masyarakat sekitar sehingga mereka bisa merasakan hidup layak tanpa harus merantau ke Jawa.

Daerah-daerah Indonesia Timur yang telah dipromosikan diantaranya: Papua, Sumba Barat, Maluku, dan Labuan Bajo-Flores. Hasil dari promosi itu saat ini mulai dapat dirasakan masyarakat sekitar karena sekarang tempat-tempat tersebut mulai dijadikan alternatif tujuan wisata dan banyak dikunjungi wisatawan baik dari dalam dan luar negeri.

Kepedulian yang dimiliki Irwan banyak dipengaruhi oleh keluarganya. Meski orang tua dan neneknya tidak pernah banyak menuntut tapi bagi Irwan mereka banyak memberikan contoh dalam hidup sehari-hari.

Orang tuanya selalu mengajarkan untuk hidup rukun dengan siapa pun, tidak bertengkar dan bertentangan dengan saudara, tidak menyusahkan orang lain. Menang-kalah tetap menjadi orang terhormat, saat berkekurangan tidak perlu rendah diri namun saat berhasil tidak perlu menyombongkan diri.

Itu juga yang diajarkan kepada anak-anak dan saudara kandungnya. Irwan yang merupakan anak pertama dari lima bersaudara berusaha mengedepankan sifat moderat terhadap adik-adiknya.
Di akhir obrolan Irwan mengatakan bahwa sebagai pelaku bisnis tentu butuh promosi, tapi bagi Irwan promosi tersebut merupakan salah satu jalan untuk menyalurkan berkat bagi orang-orang yang membutuhkan.

Wulan - Berkat 

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 59 guests and no members online

Visitors Counter

0685879
Hari ini
Kemarin
247
534