Yulius Paimin Wiryodinomo : Kersaning Gusti

Sosoknya sedehana dan bersahaja. Siapa sangka dibalik kebersahajaannya itu, Yulius Paimin Wiryodinomo telah mengantarkan tiga dari lima putra-putrinya menjadi Romo dan Suster (biarawati). Keriput yang menghiasi wajahnya menjadi saksi perjalanan dan pengalaman hidupnya. Meski tahun ini genap berusia 94 tahun namun Mbah Wiryo, demikian orang biasa memanggil, terlihat jauh lebih muda dari usianya.

Hal itu tampak pada cara berjalan, melihat, dan berbicara yang masih lancar. Hanya indera pendengarannya yang mulai berkurang.

Saat disinggung tentang Romo Prentaler, mata ayah Romo B. Saryanto, Pr yang saat ini menjabat sebagai Vikep Yogyakarta ini tampak berbinar-binar. Wiryo muda begitu mengenal sosok gembalanya, Romo Prentaler. Pribadi yang sangat ramah, selalu menyapa umat, pandai berbahasa Jawa dan disiplin itulah yang selalu diingat Mbah Wiryo tentang Romo Prentaler. Keteladanan dari Romo Prentaler itu pula yang selalu diterapkan dalam keluarga dan bermasyarakat.

Masih segar dalam ingatan Mbah Wiryo saat gua Maria Sendangsono mulai dibangun tahun 1929. Awalnya daerah sendang merupakan daerah yang dikeramatkan, tidak setiap orang bisa masuk. Para tokoh masyarakat berembug untuk membuat tempat doa dalam bentuk gua. Mbah Ronojoyo pemilik lahan tergerak hatinya dengan menghibahkan tanahnya untuk tempat pembuatan gua. Segala lapisan masyarakat sekitar berbondong-bondong ikut membantu semampu mereka. Mulai dari anak-anak sampai orang tua terlibat dalam pembuatan gua Maria. Mereka mengumpulkan batu untuk material pembangunan.

Wiryo yang kala itu masih duduk di Sekolah Rakyat setiap pulang sekolah ikut mencari dan mengumpulkan batu bersama teman-temannya. Semua merupakan swadaya masyaraat sekitar. Patung Maria yang didatangkan dari negeri Belanda hanya bisa dikirim sampai Slanden. Untuk menuju ke Semagung (letak gua) tidak memungkinkan karena masih jalan setapak, terjal, dan berbatu. Masyarakat pun akhirnya bergotongroyong memikul patung Maria sampai ke Semagung. Patung itu harus digotong minimal oleh 12 orang dengan medan yang sangat berat. Gua Maria Sendangsono diberkati Romo Prentaler tanggal 29 Desember 1929.

Wiryo muda merasakan dengan adanya gua Maria kehidupan rohani masayarakat sekitar menjadi lebih baik. Jika awalnya masyarakat banyak menganut abangan (Katolik tidak, muslim juga tidak) tetapi dengan keberadaan gua Maria sedikit demi sedikit masyarakat mengenal Tuhan. Apalagi setelah peristiwa pembaptisan pertama kali di Sendangsono sebanyak 171 orang, makin banyak orang yang tertarik untuk menjadi katolik.

Dusun Kajoran, Semagung, Tuksongo dan Promasan adalah dusun yang banyak masyarakatnya belajar agama katolik. Hingga akhirnya keempat dusun tersebut seluruh warganya beragama katolik. Mbah Wiryo juga menjelaskan bahwa berkembangnya umat katolik di empat dusun itu atas jasa Mbah Barnabas Sarikromo beserta saudara-saudaranya, yang sudah terlebih dahulu dibaptis Romo van Lith di Muntilan, yang dengan tekun mendampingi masyarakat.

Kehidupan rohani yang semakin baik, kebiasaan umat mengikuti Ekaristi dan sapaan ramah dari para Romo yang bertugas di Sendangsono menumbuhkan benih-benih panggilan di sekitar Sendangsono. Benih panggilan yang kian lama kian subur itu berkat keteladanan yang diberikan oleh para gembalanya. Keterlibatan anak muda dan anak-anak dalam perayaan Ekaristi dan sosok gembala yang sederhana, mengayomi, memberikan inspirasi bagi anak-anak muda di Sendangsono untuk menjadi Romo, Bruder dan Suster.

Putra daerah pertama yang ditahbiskan menjadi Romo adalah Romo Alex Dirjo, SJ cucu dari Mbah Barnabas Sarikromo. Juga Romo E. Rusgiharto, Pr yang pernah menjabat Vikep Semarang merupakan putra asli Sendangsono. Setelah Romo Rusgiharto, semakin banyak benih panggilan menjadi romo. Sedangkan panggilan untuk menjadi biarawan/biarawati sudah ada terlebih dahulu sebelum panggilan menjadi romo. Anak muda pertama yang menjadi Bruder juga berasal dari dusun Semagung. Para puteri Sendangsono banyak yang menjadi biarawati, sebagian besar dari mereka masuk di kongregasi OSF yang berpusat di Semarang.

Saat ditanya mengapa di Sendangsomo banyak muncul benih-benih panggilan, Mbah Wiryo dengan mantap mengatakan, “kersanipun ingkang Kuwasa” (kehendak Tuhan). Dari kebiasaan dan keteladanan itulah yang menjadikan benih panggilan tumbuh subur di Sendangsono. Mbah Wiryo yang menerima sakramen baptis sejak bayi, banyak diajarkan tentang kesederhanaan dan ketekunan. Hal itu pula yang diajarkan kepada anak, cucu, dan cicitnya.

Pada masa penjajahan Jepang, Mbah Wiryo selain menjadi petani ladang mengabdikan diri dengan menjadi pembantu Polisi Lalulintas. Karena tugasnya, tak jarang seminggu sekali bahkan lebih, baru pulang ke rumah. Pekerjaan ini benar-benar pengabdian karena ia tidak mendapatkan bayaran. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga bergantung dari hasil tani. Biasanya sebelum berangkat kerja, ia menggarap ladangnya terlebih dahulu. Hal itu dilakukannya dengan penuh sukacita. Tak pernah sedikitpun Wiryo muda berkeluh kesah tentang keadaannya.

Sejak muda Mbah Wiryo juga sudah aktif menjadi pengurus gereja. Kala itu masih bernama Aksi katolik, saat ini kita biasa menyebut Dewan Paroki. Anehnya, meski aktif Wiryo tidak pernah mau dimasukkan dalam kepengurusan. Ia tidak pernah mau memegang jabatan. Walau demikian, ia siap raga dan hati untuk gereja. Diminta atau disuruh apa saja ia mau.
Mbah Wiryo menekankan bahwa dasar iman adalah keluarga. keluarga menjadi hal yang utama untuk perkembangan iman. Itu diwujudkannya dengan selalu mengajak istri dan anak-anaknya berdoa bersama, di antaranya doa sore, doa sebelum makan, dan sebelum tidur. Tiap Minggu sebagai bapak dari 5 orang anak, Wiryo selalu mengajak istri dan anak-anak mengikuti misa baik di gereja Promasan maupun di Sendangsono. Tak pernah sedikitpun ia memaksa anak-anaknya untuk ke gereja, karena mereka sudah terbiasa melihat keseharian ayah dan ibunya.

Saat ditanya bagaimana keadaan Sendangsono sekarang, Mbah Wiryo mengatakan bahwa sekarang jauh lebih baik dibandingkan dulu terutama sejak ditata kembali oleh Rm. YB. Mangunwijaya (alm). Semakin banyak orang datang dari berbagai daerah untuk berdoa.

Meski terlihat lebih baik namun ada keprihatinan tersendiri yang dirasakan pasutri Servatius Sardi Saryowiryono-Susana Suparjinem yang ikut mendampingi Mbah Wiryo saat diwawancara. Sardi anak pertama dari Mbah Wiryo ini mengatakan, peziarah dari berbagai tempat dan berkembangnya dunia modern, banyak mempengaruhi anak-anak muda Sendangsono sekarang. Benih panggilan menjadi romo, biarawan, biarawati tidak sesubur dahulu karena banyak anak muda yang lebih suka mengadu nasib ke kota untuk bekerja atau sekolah. Demikian pula banyak anak muda yang kawin campur atau pindah keyakinan akibat pergaulan.

Berkurangnya benih panggilan juga dipengaruhi berkurangnya generasi muda. Jika dulu sebuah keluarga memiliki banyak anak, tetapi keluarga-keluarga modern atau muda saat ini biasanya memiliki 2-3 anak. Generasi balita pun jarang dijumpai karena keluarga muda setelah menikah biasanya pindah domisili ke kota.

Suparjinem, istri Sardi, yang menjadi katolik setelah menikah mengatakan, kurang sreg melihat para peziarah yang datang langsung njujug ke sendang tanpa melalui jalan salib dari Promasan. “Orang datang berziarah salah satunya untuk mengenang sengsara dan wafat Tuhan Yesus, jadi alangkah baiknya berdoa jalan salib terlebih dahulu,” ucapnya. Ibu empat anak yang salah satunya telah dipanggil Tuhan ini berharap dengan penataan Sendangsono saat ini semoga para peziarah dapat memulai kebiasaan baru untuk berdoa jalan salib.

Biodata:
Nama : Yulius Paimin Wiryodinomo
Tempat, tanggal lahir : Sendangsono, 20 Desember 1920
Istri : Anastasia Susana Wiryodinomo (alm)
Menikah : 20 Juli 1941 di Gereja Promasan
Putra ada 5 :
1. Servatius Sardi Saryowiryono
Istri : Susana Suparjinem
Menikah : 14 Mei 1974 di Paroki Boro

Putra-putri 4, meninggal 1 :
- Yohanes Kristiawan
- Martha Kristin Setyorini
- Fransiskus Asisi Catur Setiono

2. Cornelia Saryati (Suster Maria Vianey, OSF tugas di salatiga)
3. Yohanes saryono Suryoputro
4. Romo Bernardinus Saryanto Wiryoputro, Pr. (Vikep DIY, bertugas di paroki Kiduloji Yogyakarta)
5. Roberta Sarjuniati (Suster Roberta, SPM tugas di Jember)

Cucu 5, cicit 3

Wulan - Berkat

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 62 guests and no members online

Visitors Counter

0636495
Hari ini
Kemarin
168
376