Rm. Frans Magnis : Menipisnya Toleransi Dalam Masyarakat Kita


“Pemerintah wajib melindungi segenap tumpah darah Indonesia. Artinya, kewajiban pertama pemerintah adalah melindungi kebebasan hidup, berkeyakinan dan beribadat semua warga negara.” Pendapat itu diungkapkan oleh Romo Frans Magnis Suseno, SJ. Lebih lanjut, rohaniwan kelahiran Jerman tahun 1936 ini menegaskan bahwa kewajiban negara itu tidak terbatas pada enam agama yang resmi diakui tetapi juga untuk semua aliran dan kepercayaan yang hidup di tengah masyarakat. Berikut petikan wawancara lengkapnya dengan Redaksi Berkat via email beberapa waktu lalu.

Bagaimana pendapat Romo terhadap hubungan antar sesama anak bangsa pasca pilpres kemarin?
Kampanye pilpres kali ini menjadi sangat keras, bahkan kotor karena banyaknya kampanye hitam yang pada hakekatnya berupa kebohongan dan fitnah. Oleh karena itu, terjadi polarisasi yang serius dalam masyarakat. Sekarang pilihan presiden sudah dijalankan dengan baik sekali oleh rakyat Indonesia. Di satu pihak kita mesti introspeksi, mengapa kok tadinya menjadi kampanye seperti itu. Di lain pihak kita perlu rekonsiliasi. Tak boleh umat kita terpecah belah hanya karena perbedaan dambaan presiden. Dalam demokrasi, pemilihan presiden berarti juga merasa terikat oleh kesediaan untuk menghormati hasilnya, entah calon kitalah yang menang, entah yang tak kita tolak. Jadi sahabat yang sebentar seakan-akan terasing dari kita karena getol mendukung calon yang kita tolak, ya sekarang tetap sahabat kita. Kita jangan membiarkan suatu perasaan sakit hati.

Berkaca dari proses pilpres beberapa waktu lalu, masih banyak terjadi di masyarakat isu-isu yang berkaitan dengan SARA. Apa menurut Romo yang menjadikan masyarakat mudah dipengaruhi dengan isu-isu tersebut?
Unsur-unsur SARA, sindiran pada ras atau keyakinan agama kandidat, merupakan bagian kampanye hitam dan harus ditolak. Apalagi, presiden kita harus kita pilih karena kualitasnya, bukan karena agama atau rasnya. Bahwa itu peka adalah tidak mengherankan. Prasangka karena suku, ras atau agama masih ada di hati kita. Maka sangat perlu kita bebaskan diri dari prasangka itu. Kita tidak anti seseorang karena rasnya atau karena agamanya.

Tak jarang pemerintah ikut campur dalam kehidupan beragama masyarakat kita sehingga muncul perbedaan/konflik. Menurut Romo bagaimana baiknya pemerintah berperan sehingga tidak memunculkan friksi?
Pemerintah wajib melindungi segenap tumpah darah Indonesia. Artinya, kewajiban pertama pemerintah adalah melindungi kebebasan hidup, berkeyakinan dan beribadat semua warga negara. Kewajiban negara itu tidak terbatas pada enam agama yang resmi diakui. Semua aliran dan kepercayaan di antara kita berhak dilindungi. Yang paling dasar, pemerintah tidak sama sekali membiarkan kekerasan, termasuk kekerasan atas nama agama. Tetapi pemerintah juga harus mendidik masyarakat supaya bersedia saling menerima dalam perbedaannya.

Tren sekarang, semakin banyak tokoh muda yang tampil dalam berbagai kepemimpinan, menurut romo bagaimana eksistensi kaum muda Katolik sekarang ini melihat peluang tersebut?
Yang penting, kita umat Katolik sebagai warga bangsa Indonesia sepenuhnya melibatkan diri dalam kehidupan bangsa. Maka sangat perlu kaum muda kita tidak hanya memikirkan masa depan (karier) pribadi mereka sendiri – meskipun itu tentu kewajiban pertama-melainkan juga melibatkan diri dalam kehidupan politik dan sosial bangsa, di mana ada kesempatan, baik di tingkat nasional maupun sosial. Misalnya menjadi anggota partai politik atau anggota serikat buruh. Kalau mereka melibatkan diri, mereka juga bisa menjadi pemimpin – meskipun seorang presiden Katolik Indonesia masih belum perlu (di Amerika Serikat saja butuh 160 tahun sampai orang Katolik, John F. Kennedy, pertama kali bisa menjadi presiden). Tak apa itu.

Umat Katolik selama ini masih banyak yang memilih berada pada “zona nyaman” dengan berinteraksi dan kerjasama dengan saudara seiman di lingkup gereja (sekitar altar). Hanya sedikit yang mau terlibat dan memulai kerjasama dengan saudara yang berbeda keyakinan untuk menjadi berkat bagi masyarakat luas. Bagaimana menurut Romo dengan keadaan seperti ini?
Kita orang Katolik jangan membatasi pergaulan pada umat Katolik. Kita perlu interaksi dengan, jadi menjadi bagian aktif, seluruh bangsa. Karena itu kita perlu membangun hubungan dengan warga dan umat agama lain, misalnya di Jawa dengan saudara-saudari dari NU dan Muhammadiyah, di Bali dengan saudara-saudari Hindu. Kita harus membangun hubungan saling percaya dengan mereka, dan itu hanya mungkin kalau kita saling kenal, saling bergaul erat. Jadi kita harus ke luar dari “gettho” (zona intern) Katolik.

Yesus mengajarkan tentang bagaimana kita harus mengasihi sesama kita. Menurut Romo, dalam keluarga Katolik, sejak kapan seorang pribadi diajarkan tentang mengasihi sesama, toleransi, tepa selira, menghargai dan menghormati, terutama yang berbeda keyakinan dan etnis?
Dalam keluarga kita belajar kepercayaan dasar, yaitu bahwa orang lain – ibu, ayah, keluarga lain, tetangga dll. – bukan orang jahat, melainkan orang baik, jadi kita tak perlu takut dengan orang lain. Karena itu kita dapat menerima dan bahkan menghormati mereka yang berbeda. Itulah kemampuan untuk bertoleransi. Dalam pendidikan selanjutnya kita belajar bahwa secara khusus kita perlu menerima mereka yang berbeda suku, etnik, ras atau agama. Penerimaan mereka yang berbeda itu semakin mudah kalau sejak kecil kita sudah biasa bergaul dengan mereka, main bola dengan mereka dlsb. Kita menjadi tahu bahwa mereka yang berbeda juga manusia seperti kita, dengan kebaikan, harapan, kekhawatiran dan juga kenakalan seperti kita.

Bagaimana harapan Romo bagi gereja Katolik (para pastor dan umat) dalam mewujudkan persaudaraan sejati?
Persaudaraan sejati senantiasa harus dipelihara dan dilatih. Tentu pertama dalam umat kita sendiri. Dengan lain kata, kita harus belajar untuk memecahkan konflik-konflik yang senantiasa bisa terjadi di antara kita dengan baik, beradab, adil, tidak emosional, tak pernah dengan memfitnah, menipu atau memakai kekerasan. Kita harus belajar mengatasi emosi-emosi rendah kita seperti cepat tersinggung, iri hati, cemburu, dendam dan lain-lain. Di antara kita, tetapi sebenarnya dengan siapa pun, sikap-sikap negatip seperti itu tidak boleh dibiarkan.

Data Pribadi:
Romo Franz Magnis-Suseno SJ, rohaniwan, lahir 1936 di Jerman. Sejak 1961 tinggal di Indonesia dan sejak 1977 menjadi WNI. Belajar filsafat, teologi dan teori politik di Pullach, Yogyakarta dan München; doktorat dalam filsafat 1973 dari Universitas München. Sejak 1969 menjadi dosen tetap dan sekarang guru besar emeritus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta. Ia juga menjadi Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Driyarkara. Sejak 1976 ia mengajar di Universitas Indonesia dan selama 9 tahun di Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Ia juga menjadi dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di Eropa.

Tahun 2002 ia menerima gelar doktor h.c. (honoris causae) dalam bidang teologi dari Universitas Luzern di Swis. Ia telah menulis 36 buku dan lebih dari 600 karangan populer dan ilmiah, terutama di bidang etika, filsafat politik dan alam pikiran Jawa.

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 112 guests and no members online

Visitors Counter

0660970
Hari ini
Kemarin
119
261