Membangun Budaya Sadar Diri

Bagi masyarakat Semarang, nama Prie GS sudah tidak asing lagi. Pria kelahiran Pati-Jawa Tengah yang sampai sekarang masih aktif berkarya di Harian Suara Merdeka ini sering diminta menjadi narasumber dalam diskusi dan seminar sampai skala nasional.

Sekarang suaranya dapat kita nikmati di radio Idola FM dan wajahnya mulai menghiasi salah satu acara di Metro TV. Gagasan-gagasannya yang brilian dibalut dengan humor tidak mudah dilupakan orang. Pria yang akrab dengan Mgr. Ign. Suharyo ini memberikan waktunya kepada awak redaksi untuk wawancara dan ngobrol-ngobrol di rumahnya yang asri di daerah Semarang Barat.

Ketika ditanya tentang kebiasaan masyarakat saat ini yang mudah tersulut emosinya, dengan gamblang Prie yang lebih enjoy disebut budayawan menjawab bahwa di tiap jaman ada bahasa dan rejekinya sendiri-sendiri.

Rejeki pada jaman sekarang output-output variabelnya bersifat mendorong. Dengan banyaknya variabel, dorongan yang dihasilkan pun lengkap. Maka muncullah energi keserempakan. Dari variabel ekonomi mendorong orang untuk berlaku konsumtif.

Orang konsumtif memiliki naluri predatorik yang besar. Dahulu pada waktu jaman belum selengkap sekarang, banyak orang skeptik, menjalankan laku tirakat, menahan diri, dan reflektif. Bergesernya jaman, variabel reflektif sekarang sulit untuk dijalani. Hanya orang-orang tertentu yang masih bisa mengupayakan. Bagaimana mau reflektif jika dalam keseharian waktu yang dimiliki banyak digempur tayangan televisi? Contohnya, kehadiran tv kabel menawarkan banyak channel.

Dalam sehari memilih channel saja kurang waktu, apalagi waktu untuk menonton. Untuk hidup dan melakukan kegiatan sehari-hari saja kita merasa kekurangan waktu, jika hidup hanya digunakan untuk nonton tv, umur yang kita miliki masih kurang.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Prie mengatakan bahwa bangsa kita yang baru 20 tahun berdemokrasi, kecepatannya hampir menyamai Amerika Serikat, salah satu contohnya adalah partai politik. Amerika hanya memiliki 2 partai tetapi kita berani dengan berbagai macam partai. Itu baru core-nya, belum rantingnya.

“Gelegar demokrasi di negara kita sangat gegap gempita, mulai dari pemilihan ketua OSIS sampai kepala negara terlihat sangat riuh rendah,” tegas Prie. Watak dari demokrasi adalah berdebat. Berdebat pada masa sekarang sedang galak-galaknya. Semua orang menggunakan hak berdebat. Jika dahulu berdebat hanya hak para priyayi dan elit politik, sekarang siapa saja bisa ikut berdebat tidak melihat latar belakang pendidikan atau jabatannya. Sudah haknya diberikan, instrumennya juga disediakan (media sosial). Dengan adanya media sosial, persahabatan menjadi sangat sederhana.

Levelitas yang terbangun dalam masyarakat menjadi ambyar oleh sebuah instrumen yang ada. Di sekitar kita banyak ditawarkan berbagai jejaring sosial. Dulu kita mengenal friendster kemudian beberapa waktu kemudian ada facebook yang banyak digandrungi orang. Meski kehadiran facebook sudah cukup membantu dalam berjejaring, muncullah twitter. Ada stigma orang memiliki akun facebook tetapi tidak punya akun twitter dianggap kuno. Ini merupakan salah satu kekejaman dunia instrumen.

Bicara tentang mode, telepon genggam yang kita beli setahun atau dua tahun yang lalu dalam masyarakat bisa dikatakan sudah kuno. Anggapan kuno itu muncul bukan karena usia dari telepon genggam kita tetapi dikunokan oleh industri. Hadirnya telepon genggam atau gadget terbaru menyebabkan apa yang kita miliki beberapa waktu lalu menjadi kuno meski secara fungsi sebenarnya masih tergolong modern atau bahkan belum kita fungsikan secara maksimal. Demikian juga dengan kehadiran mobil-mobil keluaran terbaru.

Pembedaan kuno dan modern seringkali hanya ditandai dengan aksesoris yang sedikit berbeda, padahal fungsi semua sama. Gempuran bertubi-tubi dari industri ini menyebabkan tidak adanya budaya penjarakkan. Keadaan demikian yang menyebabkan munculnya pola sumbu pendek di masyarakat sebagai akibat variabel yang serentak. Orang mudah marah atau tersinggung hanya karena permasalahan sepele.

Banyak orang menyadari bahwa dirinya masuk dalam zona sumbu pendek, namun tak jarang sulit mengendalikan diri. Menurut Prie, seseorang masih memiliki rasa sadar itu baik. Namun dengan adanya instrumen seringkali menyebabkan orang menjadi tidak sadar. Yang berbahaya, jika orang tidak tahu kalau dia tidak tahu atau orang tidak sadar kalau dia tidak sadar. Berbeda dengan orang sadar kalau dirinya tidak sadar. Misalnya orang sadar kalau dirinya bodoh atau tidak tahu. Jika ia sadar maka ia akan mencari tahu dan menyadari kekurangtahuannya.

Tanpa kita sadari permainan anak-anak berupa gadget merupakan permainan ketidaksadaran. Sebenarnya anak sadar dengan apa yang dilakukan/dipermainkan tetapi tidak kuasa untuk berubah. Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa disadari kehadiran media sosial sangat mendominasi kehidupan seseorang. Misal, jika dahulu orang bangun tidur yang dilakukan pertama kali adalah berdoa, bagi sebagian orang kebiasaan sekarang bangun tidur yang dibuka pertama kali telepon genggam atau media sosial. Karena menjadi sebuah kebiasaan orang menjadi tidak sadar.

Tetapi ada sebagian orang yang sebenarnya sadar dengan apa yang dilakukannya tetapi tetap saja melakukan. Apabila orang menyadari tentang segala sesuatu baik itu berkah, musibah atau sakit, akan menjadikan orang lebih memiliki jarak dengan hal-hal yang berbau kebendaan. Segala sesuatu yang mempunyai jarak akan memudahkan kita untuk bersikap. Keberanian untuk memberikan jarak pada benda-benda di sekitar (televisi berjarak, koran berjarak) merupakan mekanisme sederhana mengatasi sumbu pendek yang terjadi.

Apakah benar dalam kehidupan bermasyarakat sekarang ini kepedulian orang menjadi luntur? Orang lebih cenderung mementingkan diri sendiri dan tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Dengan tegas Prie katakan, “Tidak ada sesuatu dalam diri manusia yang luntur, hanya pemberatannya yang tidak seimbang.” Pemberatan itu didukung oleh rejeki jaman yang ada. Jika rejeki jaman berubah, maka sifat manusia juga akan berubah.

Contoh: saat negara kita diusik oleh negara tetangga, Malaysia, maka kelompok-kelompok masyarakat Indonesia yang awalnya tidak akur lupa untuk bertengkar dan mulai sibuk bersatu melawan Malaysia. Masalahnya, apakah harus ada peristiwa-peristiwa semacam itu dulu baru rakyatnya bersatu? Ada penyulut-penyulut kesadaran bersifat by accident dan by design. Kesadaran by accident ongkosnya mahal dan datangnya di luar kehendak ideal kita. Sedangkan kesadaran by design lebih terukur dan terduga karena kita yang berkehendak.

Apakah kita sanggup membuat desain agar simpul-simpul kepedulian muncul tanpa sebab-sebab dramatik? Misalnya di rumah, nonton tv hanya menggunakan energi layak buang, bukan menjadi kebutuhan pokok. Kadang orang mengeluh tidak bisa tidur dan gelisah karena sebenarnya orang tidak tahu bagaimana membuang energi yang layak buang. Ada residu-residu di dalam tubuh dan pikiran yang harus dibuang supaya metabolisme tubuh berjalan baik. Energi untuk membaca jangan digunakan untuk menonton tv, energi untuk berdialog dengan keluarga jangan digunakan untuk asyik main game.

Jika energi digunakan sesuai kebutuhannya maka empati dalam diri akan tumbuh. Setelah energi primer terpakai baru memanfaatkan energi sisa agar tidak terjadi kepenatan. Intinya, di saat kita berkumpul dengan keluarga, nonton tv sendirian menjadi suatu hal yang tidak penting karena ada hal-hal lain yang dapat dilakukan bersama anggota keluarga yang lain. “Penyulut kesadaran stimulannya harus mulai kita bangun dari ceruk paling internal (keluarga).” Prie mengingatkan. Misalnya nonton tv atau bermain game menjadi hal sekunder setelah menunaikan yang primer.

Energi primer yang bisa dilakukan di rumah salah satunya menyapa anak seperti hak-hak orangtua terhadap anak. Saat ini banyak yang jarang dilakukan orangtua kepada anak-anaknya. Tugas orang tua tidak sekedar bayar SPP dan menyekolahkan anak sampai tingkat yang lebih tinggi. Hak-hak membangunkan anak dengan kata-kata lembut dan menyapa anak tidak boleh dilupakan. Mentang-mentang sudah membiayai SPP, orangtua tidak boleh melontarkan kata-kata kasar kepada anak-anaknya.

Kesadaran seperti itu harus menjadi stimulan. Rasa kemanusiaan hendaknya hidup tanpa pengaruh tv karena kita tidak kuat menanggung gempuran dari tv. Ruang-ruang kemerdekaan harus diblokir sedemikian rupa agar tidak terpengaruh dari luar. Pemblokiran atau penyaringan tidak susah seperti yang kita bayangkan asalkan dibarengi dengan niat yang kuat. Jangan hanya menyalahkan pemerintah atau pihak-pihak lain yang menawarkan berbagai macam hiburan dan lain-lain tanpa membangun benteng pertahanan dalam diri sendiri. Jika hak-hak orang tua terhadap anak dipenuhi tanpa sadar sensor anak akan jalan sendiri. Saat melihat tv, anak bisa menyeleksi sendiri.

Kita harus mulai menghidupkan stimulan lewat ruang-ruang privat kita. Memberi pujian kepada pasangan (istri atau suami) akan memberi dampak yang luar biasa. Hidup dalam sebuah perkawinan menjadi hal yang rutin, tetapi salah jika hal yang rutin tidak disegarkan kembali. Stimulan-stimulan kita bisa menjadi penawar budaya sumbu pendek.

Saat ditanya tentang munculnya budaya “wani pira?” yang tumbuh subur sampai akar rumput dan bagaimana cara menyikapinya, Prie menuturkan bahwa sejak tahun 50 SM di Roma, pada masa Julius Caesar, sudah mengajarkan budaya “wani pira”. Di dalam iklim demokrasi, budaya “wani pira” adalah sebuah keniscayaan, sebuah tradisi ikutan yang tidak terelakkan. “Kalau tidak terelakkan ya harus diterima,” tegas Prie. Demokrasi adalah pilihan bangsa kita sampai bisa menumbangkan rezim (Orde Baru) pada jaman itu. Sekarang saat sudah diberi kebebasan malah bingung sendiri. Demokrasi bukan paham kenegaraan tetapi paham transaksional.

Menurut Aristoteles, negara paling ideal menganut paham theokrasi, syaratnya pemimpin harus sekelas nabi. Hal semacam ini sering dimanipulasi orang yang kemudian sok menjadi dewa atau nabi. Menjadi Firaun-firaun baru. Setelah theokrasi, muncul negara kerajaan, tetapi juga muncul klaim-klaim bahasa langit. Demokrasi muncul sebagai hadiah terakhir dari keruwetan menangani sebuah negara. Demokrasi adalah rakyat yang berdaulat.

Jika rakyat yang berdaulat, Aristoteles mengingatkan, azas demokrasi kedaulatan di tangan orang banyak. Apa jadinya jika yang berdaulat orang gila atau orang tidak benar. Itulah kerumitan demokrasi. Di tengah budaya “wani pira” jika masyarakat sudah bosan, orang mendengar kata-kata “wani pira” akan muak dan muncul gelombang balik. Demokrasi menawarkan sebuah antithesis. Demokrasi membuka kesepadanan dialog.

Menurut Aristoteles, demokrasi adalah paham bernegara paling buruk tetapi paling mungkin diselenggarakan kalau ingin negara awet. Akibat positif dari demokrasi, orang menjadi berhati-hati dalam bersikap. Dampak dari berdemokrasi muncul kelompok-kelompok yang minta berdaulat, misalnya seperti komunitas geng motor.

Meski hanya sebagian kecil tetapi akan memberi warna dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Jika dibandingkan dengan pemerintahan-pemerintahan terdahulu, tidak ada jaman yang berat karena semua ada masanya. Ada jargon yang mengatakan “Piye, enak jamanku ta?” Kalau benar diminta kembali ke masa lalu, siapa yang mau? Pasti banyak yang menolak.

BIODATA:
Nama asli : Supriyanto
Nama beken : Prie GS (sejak SMP)
Tempat, tanggal lahir : Semarang, 2 Pebruari 1965
Nama Istri : Rr. Sri Murdiastuti
Nama Anak : Suha Aisyah
Maulana Gibran
Pendidikan : Diploma IKIP Negeri Semarang Jurusan Seni Musik
(lulus tahun 1987)
Pekerjaan : - Budayawan
- Staf di Harian Suara Merdeka

Wulan - Berkat

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 53 guests and no members online

Visitors Counter

0684934
Hari ini
Kemarin
477
590