Presiden (dalam) Mimpi Saya

Sebagai orang Katolik, saya sepakat benar dengan anjuran Uskup Agung Semarang Mgr. J. Pujasumarta di majalah ini edisi Februari lalu, agar kita menentukan pilihan tangal 9 Juli mendatang dengan hati nurani.

Namun akhir-akhir ini saya merasa kesulitan mengetahui apa kata hati nurani. Setiap hari begitu banyak ragam berita datang bertubi-tubi; menyerbu ruang pandang, ruang dengar, dan akhirnya ruang batin saya. Betapa sulit menemukan keheningan. Maka seperti Gatotkaca menjejakkan kakinya tiga kali ke tanah saat minta tolong saudaranya Antasena (ups, atau Antareja?), saya "menjejakkan kaki" lewat doa yang sangat sederhana, "Yesus, tolonglah aku."

Ajaib, serentak terbayang di ruang mata saya Musa yang turun membawa Tabut Perjanjian dari Gunung Sinai. 10 Perintah Allah! Ketika ditanya mana perintah yang paling penting, Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mrk 12:30-31)

Punya kasih
Rasul Paulus mengingatkan umat di Korintus tentang seberapa pentingnya kehadiran kasih bagi pengikut kristus: "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, kalau aku tak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang bergemerincing." (1 Kor 13:1)

Tak cukup dengan itu, ia merinci lebih lanjut: meskipun kita mampu bernubuat, serba tahu, mempunyai iman sempurna, membagikan harta sampai habis, bahkan membiarkan tubuh kita untuk dibakar, bila semua itu tidak disertai oleh kasih, maka semuanya tidak berfaedah bagi kita (1 Kor 13: 2-3).

Sebegitu pentingnya kehadiran kasih bagi umat Kristus, sehingga bagi saya logis saja bila hal pertama yang seyogianya dilihat pada calon presiden kita adalah: seberapa banyak kasih hadir pada kepribadiannya? Meskipun pembawaan yang lembut dan penuh senyum dapat saja mencerminkan sikap kasih; pada seorang pemimpin, kasih terutama dilihat dari rekam jejak tindakan mereka. Membela rakyat, menegakkan keadilan, menurut saya termasuk pengejawantahan penting dari “kasih” seorang pemimpin.

Tak kalah penting, sejauh mana berkat kepemimpinan mereka, semakin banyak orang, sadar atau tidak, lewat cara mereka masing-masing, melaksanakan kesepuluh perintah Allah? Saya teringat kisah Yanti perawat orang tua di Jakarta. Tapi uwanya sendiri yang sakit di desa, dikenangnya dengan mata berkaca-kaca. “Percuma dimasukkan ke rumah sakit. Tidak diapa-apakan. Maka kami rawat sendiri saja di rumah.” Demikianlah, nasib uwa Yanti yang akhirnya meninggal di rumah karena di rumah sakit tidak terurus sebagaimana mestinya.

Kalau rakyat miskin tak kunjung dapat menikmati fasilitas kesehatan, fasilitas transportasi dan lain-lain yang memadai, yaa … saya akan memandang pemerintah belum bekerja dengan semangat kasih.

Anak-anak terang
Kita hidup dalam masyarakat. Apa yang kita lakukan sedikit banyak mempengaruhi orang lain. Korupsi dipraktikkan dengan belajar dari lingkungan birokrasi yang korup: menggilir pemenang lelang seperti arisan, mengubah Harga Perkiraan Sendiri, menggelembungkan jumlah siswa untuk membesarkan anggaran. Semua itu contoh bagaimana masyarakat “belajar berkorupsi” secara sosial dengan mengamati apa yang dilakukan oleh birokrasi yang korup; lalu secara tak sadar interaksi informal dan menahun dapat menimbulkan kesadaran manusia untuk ikut-ikutan korup juga. Karena praktik korupsi sudah menjadi habitus, kebiasaan sehari-hari (Pola dan Akar Korupsi oleh Etty Indriati, 2014).

Pemerintah yang baik akan memastikan bahwa masyarakat berkembang menjadi semakin baik dengan membangun budaya baru lewat aturan-aturan yang ditegakkan. Maka calon presiden yang akan saya pilih, akan membentuk sebuah pemerintahan yang mengubah “pola budaya egosentrisme” menjadi pola hidup “anak-anak terang”: masyarakat yang tidak disesatkan oleh kata-kata hampa, karena terang hanya berbuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran (Ef 5:9).

Ada satu lagi cita-cita saya: presiden kita nanti hendaknya menciptakan bangsa Indonesia yang lebih memilih hidup menurut Roh dan bukan mengejar kedagingan semata. Soalnya, simpel saja, saya sudah capek menonton, mendengar, dan membaca berita dan masalah yang berkisar pada perbuatan “daging” melulu, a.l.: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, iri hati, amarah, perseteruan, kepentingan diri sendiri. (Gal 5: 19-20).

Bak membangun rumah
Adalah dua orang yang lomba membangun rumah. Pak Ari membangun cepat-cepat di tempat di mana dia berdiri. Padahal tanahnya berpasir, sehingga fondasinya kurang kuat. Tapi Pak Bijak butuh waktu lama membangun rumahnya. Ia mencari tempat yang tanahnya kuat berbatu. Teman-temannya mengejek-ngejek dia karena ia dinilai lambat bekerja. Begitu rumahnya berdiri, dan badai datang, teman-teman itu malah bernaung di rumahnya sambil memuji dia. Mereka bersama-sama melihat rumah Pak Ari yang dalam sekejap ambruk oleh badai.

Membangun rumah membutuhkan waktu. Apalagi membangun negara dan bangsa. Semoga calon presiden saya nanti, akan menjadi pemimpin yang mampu mengajak kita semua membangun bersama dan berbagi kasih. Semoga ia akan membawa suasana sejuk yang membuat saya lebih sabar, lebih murah hati, tidak cemburu, tidak sombong, tidak mencari keuntungan sendiri, bersuka cita karena kebenaran, bukan karena ketidakadilan.

Untuk semua cita-cita yang cukup indah (dan sulit) itu, saya bersedia membawanya dalam doa setiap hari. Karena bukankah hakekat umat Allah adalah umat yang pendoa? Apakah Anda ingat mendoakan bangsa dan negara Anda setiap hari? Termasuk mendoakan agar terpilih presiden yang terberkati bagi kita semua …. Yuk!

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 83 guests and no members online

Visitors Counter

0685903
Hari ini
Kemarin
271
534