Pilih Presiden: Amati Rekam Jejak dan Masa Lalunya

Itulah pesan yang disampaikan Romo Antonius Benny Susetyo, Pr saat menjawab pertanyaan via email yang disampaikan Berkat beberapa waktu lalu. Tentu pesan itu menjadi amat penting karena sebentar lagi kita akan dihadapkan dengan Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 9 Juli nanti. Dengan mengetahui rekam jejak dan masa lalu calon presiden yang akan dipilih, kita dapat memilih secara bijak, benar, dan bertanggungjawab. Berikut petikan wawancara lengkapnya.

Tanggal 9 Juli 2014 dilaksanakan Pemilihan Presiden (Pilpres). Apa pendapat Romo tentang Pilpres kali ini? Apakah sama dengan Pilpres-pilpres sebelumnya atau ada sesuatu yang berbeda? Mohon bisa dijelaskan?
Sebenarnya sama, hanya sekarang mengerucut pada dua pasangan, Joko Widodo dengan Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto dengan Hatta Rajasa. Pilihan sekarang pada segi ideologi dan partai yang mendukung, apakah memiliki komitmen terhadap Pancasila, keragamaan, dan jaminan kebebasan beragama.

Ciri-ciri pemimpin seperti apa yang dibutuhkan bangsa ini untuk menjadi nakhoda lima tahun ke depan?
Tidak haus kekuasan dan memiliki ambisi yang berlebihan, karena pemimpin seperti itu tidak akan mampu memandu bangsa ini untuk mampu menjadi bangsa yang bisa menjawab krisis energi, pangan, dan keteladanan. Carilah pemimpin yang sudah melakukan hal–hal terkecil tetapi terbukti mampu membawa perubahan yang mendasar. Pemimpin yang memiliki habitus adalah pemimpin yang hadir menyapa rakyatnya, tidak ada jarak, tulus dan memiliki rekam jejak jelas dari masa lalu yang kelam. Pemimpin seperti dia bekerja bagi rakyat bukan berretorika.

Ada kecenderungan masing-masing capres dan para pendukungnya melakukan berbagai usaha untuk saling menjatuhkan. Salah satu usaha itu adalah membuat berita ‘bohong’ dan menyebarkannya/mengunggahnya ke publik. Bagaimana pendapat Romo tentang hal ini? Apa yang harus dilakukan masyarakat terkait hal ini?
Kampanye hitam memiliki dampak buruk bagi pendidikan politik. Tanpa kampanye hitam, masyarakat diharapkan bisa melihat pasangan capres dan cawapres dengan pandangan pikiran jernih. Selain itu, kita harus mengajak seluruh kalangan masyarakat agar mengawal tahapan semua pasangan dalam menuju pilpres. Karena proses tahapan akan mempengaruhi sikap pemenang saat menjadi penguasa nantinya. Jika ada pasangan yang melakukan politik uang dan transaksional, maka dipastikan (pemerintahan mereka) akan korup. Carilah pemimpin yang dana transparan dan lihat tim pemenangannya. Rakyat cerdas menentukan pilihan yang terbaik, jangan kita terjebak kampanye hitam dan politik uang.

Di masyarakat sendiri sebagian berpikir “Buat apa pergi ke TPS dan ikutan nyoblos, toh hal itu nggak punya efek apa-apa buat kehidupanku?” Apa pendapat Romo tentang hal ini? Upaya-upaya apa saja yang harus dilakukan agar di masyarakat tumbuh dan memiliki kesadaran untuk mau/ikut berpartisipasi?
Dengan melakukan golput kita menyia-nyiakan kesempatan perubahan karena suara kita akan diambil oleh orang tidak bertangungjawab. Memilih dalam perhelatan demokrasi bukan hanya hak warga negara. Menggunakan hak pilih adalah panggilan bagi setiap umat Katolik yang telah memiliki hak pilih. Dengan hak pilih, kita telah mengambil bagian dalam menentukan arah perjalanan bangsa. Mengenai siapa yang harus kita pilih, Gereja mengatakan bahwa umat tidak boleh terjebak dalam politik uang. Hati-hati dengan sikap ramah dan kebaikan, terjebak isu keagamaan, kedaerahan dan carilah pemimpin bersih dari masa lalunya.

Bagi umat Katolik sendiri, apa saran Romo terkait pelaksanaan Pilpres?
Umat Katolik menggunakan hak pilih untuk memilih pemimpin jelas sudah melakukan pekerjaan dan berjiwa negarawan. Pemimpin baru bagi bangsa Indonesia seharusnya bukan sosok yang gila dan haus kekuasaan. Bukan pula sosok yang terlalu gandrung dengan citra dan tepuk tangan internasional, bukan juga sosok yang hanya berlagak memahami aspirasi dan jerih payah rakyat biasa, tetapi pemimpin yang sudah melakukan dengan bekerja demi kepentingan rakyat, sudah teruji, jangan kita memilih pemimpin yang hanya pandai retorika tetapi tidak teruji. Kita harus rasional dalam memilih pemimpin karena jika kita tidak rasional akan menderita lima tahun ke depan. Pilihlah pemimpin antara kata dan perbuatan satu jangan terjebak permainan kata, karena anda akan menyesal seumur hidup. Pilih pemimpin yang sudah melakukan dan teruji komitmennya terhadap Pancasila.

Harapan Romo untuk Pilpres kali ini dan masyarakat pada umumnya?
Masyarakat hendaknya berhati-hati dengan mereka yang jelas-jelas berwawasan sempit, mementingkan kelompok, dikenal tidak jujur, korupsi, dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kedudukan. Orang-orang semacam itu tidak layak dipilih. Selain itu, perlu berhati-hati dengan mereka yang seolah-olah bersikap ramah dan banyak kebaikan yang ditampilkan saat berkampanye. Sebaiknya masyarakat tidak terjebak atau ikut dalam politik uang yang dilakukan para calon pemimpin untuk mendapatkan dukungan suara. Kita perlu mencari informasi secara mendalam mengenai rekam jejak, masa lalu dan apa yang sudah dilakukannya. Demi terjaga dan tegaknya bangsa ini, perlulah kita memperhitungkan calon pemimpin yang mau berjuang untuk mengembangkan sikap toleran dalam kehidupan antarumat beragama dan peduli pada pelestarian lingkungan hidup.


BIODATA:
Romo Antonius Benny Susetyo, Pr ditahbiskan pada 1996, dan pertama kali menjadi pastor pembantu di Paroki Situbondo dan Bondowoso.

Seorang aktivis pejuang di Forum Kajian Demokrasi dan Hak Asasi Manusia Indonesia (FKDHI), dan Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB). Pendiri Pergerakan Manusia Merdeka, menjadi embrio berdirinya Setara Institute, yang didirikannya bersama sejumlah tokoh dan aktivis, di antaranya KH.Abdurrahman Wahid, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Hendardi, Rocky Gerung, M. Chatib Basri dan Zumrotin KS. Romo Benny sendiri aktif sebagai Sekretaris Dewan Nasional.
Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan (HAK) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Dia sangat mengidolakan Romo YB Mangunwiajaya, pastor budayawan, sastrawan, arsitek, aktivis sosial.

Aktif menulis di beberapa koran nasional. Sejumlah rekan aktivisnya meminta
artikel-artikel tersebut, baik yang dimuat atau tidak, untuk dibukukan. Jadilah buku 'Orde Para Bandit' (Averroes Press dan LKiS, 2001) menjadi buku pertamanya. Kemudian menulis buku 'Membuka Mata Hati Indonesia' (Averroes Press dan Pustaka Pelajar, 2002), 'Gerakan Moral sebagai Gerakan Pencerahan, Merefleksi Kemunduran Etika Elit Politik Pasca Reformasi' (Proses terbit, 2003), 'Kasih itu Pembebasan' (Proses terbit, 2003) dan 'Bimbingan Rohani Calon Pemimpin, Panduan bagi Pembimbing Rohani dalam pembinaan Kaderisasi' (2003).

Sebagai kontributor dalam buku 'Melangkah dari Reruntuhan, Tragedi Situbondo' (Grasindo, 1998) dan 'Indonesia di Persimpangan Jalan' (1999).

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 90 guests and no members online

Visitors Counter

0660948
Hari ini
Kemarin
97
261