Antonius Suparyono, Pr : “Gereja Adalah Tahta Pelayanan”

Romo Suparyono, PrKalimat itu meluncur tegas dari bibir Romo Antonius Suparyono, Pr. Menurut anak ketiga dari delapan bersaudara ini, sebagai pelayan tidak ada hal yang patut untuk disombongkan. Justru kita harus selalu rendah hati dan mau terbuka satu sama lain. Berikut hasil wawancara secara lengkap dengan Romo Antonius Suparyono, Pr bersama redaksi Berkat beberapa waktu lalu.

Paroki Katedral baru saja merayakan HUT nya yang ke-85. Setelah perayaan itu usai, apa yang selanjutnya harus dilakukan oleh semua komponen di paroki ini mulai dari romo, pengurus gereja, hingga umat?
Ya harusnya dengan peringatan 85 tahun itu menjadi momen yang paling bagus bagi kita semua untuk merefleksikan, setelah berusia 85 tahun ini bagaimana keberadaan kita sebagai paroki, sebagai gereja. Apakah kita ini sudah pantas disebut sebagai Gereja Katedral yang konon menjadi Mater et Magistra, Mater et Caput.

Saya pernah mengatakan, jangan sampai kita ini seperti orang yang kabotan jeneng. Dengan nama Mater et Magistra itu kan diharapkan supaya kita sebagai ibu. Ibu yang bisa memberi pendidikan, pengajaran atau teladan bagi yang lain-lainnya. Lain-lainnya itu tentu saja gereja-gereja, paroki-paroki lain yang ada di wilayah Keuskupan Agung Semarang. Jadi, yang harus kita lakukan sebenarnya adalah mencoba merefleksikan, apakah kita ini sudah pantas disebut sebagai Gereja Mater et Magistra tadi. Semua harus berefleksi baik kami para romo bersama dengan dewan paroki dan umat. Tanpa itu saya kira tidak ada apa-apanya peringatan 85 tahun. Hanya sebatas seremoni saja.

Untuk bisa mewujudkan hal itu tentu harus ada kerjasama antara romo dengan pengurus dan dengan umat sendiri. Menurut pandangan Romo sejauhmana hubungan yang sudah terjalin antara romo, pengurus, dan umat itu sendiri?
Nah, dari buah refleksi kita bisa melihat, tampaknya memang masih ada mis. Ada semacam perbedaan pandangan. Yang jelas memang sepertinya kok belum gathuk. Masih ada beberapa hal yang seringkali tidak bisa masuk. Apa yang dipikirkan dan dikatakan romo bersama dengan dewan seringkali juga disalahtangkap oleh umat. Atau bahkan antara romo dengan dewan sendiri bisa juga terjadi seperti itu. Ada semacam salah paham.

Lalu, apa upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi terjadinya kesalahpahaman?
Dibutuhkan kerendahan hati untuk semua pihak dan berani terbuka satu sama lain. Keterbukaan tanpa kerendahan hati tidak akan bisa. Jadi, disamping kita harus berani terbuka satu dengan yang lain, semangat kerendahan hati harus ada baik itu dari romo, dewan maupun dari umat. Jangan sampai ada pihak yang merasa bahwa aku yang lebih, aku yang menentukan, aku yang berkuasa.

Di sini tidak ada kekuasaan. Gereja adalah tahta pelayanan bukan tahta kekuasaan. Maka, kalau itu benar-benar disadari bahwa gereja itu tahta pelayanan baik dari romo maupun dewan atau siapa saja yang menduduki posisi tertentu menyadari kedudukan yang saya duduki ini sebagai pelayan. Pelayan itu modalnya satu; rendah hati. Tidak ada pelayan yang sombong karena tidak ada yang disombongkan. Nah, yang seharusnya terjadi seperti itu. Dan saya kira belum terlambat, masih bisa dilakukan lebih-lebih menjelang akhir tahun ini. Mungkin di akhir tahun bisa menjadi kesempatan bagi kita untuk mengadakan refleksi bersama.

Kaitannya dengan Perayaan Natal, tema yang diambil tahun ini adalah “Dalam Terang Iman, Bersedia Membawa Damai”. Menurut Romo, tema ini bermakna apa dan bagaimana implementasinya untuk hidup sehari-hari?
Terang iman. Iman itu kan sudah menjadi milik kita karena kita mendapat anugerah iman. Iman akan Kristus. Iman akan Kristus ini diharapkan sungguh-sungguh menerangi kehidupan kita bersama. Karena terang itulah diharapkan muncul semangat. Semangat untuk membawa damai kepada siapa saja. Membawa damai artinya membawa suasana kerukunan, suasana pengertian kepada yang lain. Ya kembalinya ya yang tadi lagi. Tanpa kerendahan hati hal itu tidak akan terjadi.

Bagaimana peran umat untuk membawa damai ke dalam kehidupan bermasyarakat?
Peran umat saya kira sudah. Umat dengan sendirinya selalu membawa damai. Tidak ada satu orang pun yang sebenarnya suka dengan permusuhan, pertengkaran atau percekcokan. Normalnya semua orang itu menyenangi suasana kedamaian karena kedamaian itu akan membawa ketenangan dan kebahagiaan. Jadi, itu merupakan kecenderungan yang diupayakan oleh semua umat. Saya kira mereka sudah melaksanakan itu, hanya tinggal kita lebih menjaga dan meningkatkan. Memberi motivasi kepada mereka untuk tetap bersemangat membawa damai.

Pesan dan harapan Romo untuk seluruh umat dalam rangka Natal?
Saya berharap supaya peristiwa Natal jangan hanya dipahami sebagai peristiwa yang penuh dengan gemerlapnya upacara atau pesta pora yang mengeksploitasi manusia untuk menciptakan suasana yang serba wah. Bagi saya suasana Natal ini diharapkan umat semakin menyadari bahwa yang kita rayakan ini adalah pribadi.

Pribadi yang akan membawa kedamaian, ketentraman, dan kebahagiaan, memuncak pada keselamatan. Lalu, kalau kita menyadari bahwa yang kita rayakan itu kehadiran pribadi yang seperti itu maka umat juga supaya semakin menyadari pribadi seperti itu mempunyai kehendak, kerinduan, atau keinginan apa pada kita semua supaya misi yang dibawa yaitu membawa damai dan sukacita itu terlaksana. Dengan kata lain semoga Natal ini semua umat beriman semakin bersatu padu untuk ikut ambil bagian di dalam rencana kristus yang akan membawa manusia pada suasana kedamaian, kerukunan, ketentraman, kesejahteraan, dan keselamatan.

DATA PRIBADI:
Nama lengkap : Antonius Suparyono
Tempat/Tgl. Lahir : Semarang, 5 April 1957
Status : Anak ke-3 dari 8 bersaudara
Nama Orangtua : Sugiyo (alm) – Parsiyem (alm)
Tahbisan Imam : 12 Agustus 1992
Perjalanan Imamat :
1992 – 1994 : Pastor pembantu di Gereja Hati Kudus Yesus Pugeran – Yogyakarta
1994 – 1996 : Pastor pembantu di Gereja Sant Inigo Dirjodipuran – Solo
1996 – 2000 : Pastor kepala di Gereja Hati Kudus Yesus Sukoharjo
2000 – 2006 : Pastor kepala di Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran – Yogyakarta
2006 – 2007 : Pastor kepala di Gereja Mater Dei Lampersari – Semarang
2009 - : Pastor pembantu di Gereja SPM RRS Randusari Katedral – Semarang

NB:
Tahun 2007 Romo Suparyono jatuh sakit sehingga harus dirawat intensif di RS. Elisabeth.
Setelah sembuh dari sakit, 1 tahun tinggal di Seminari Tahun Orientasi Rohani Jangli untuk menjalani pemulihan.

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 169 guests and no members online

Visitors Counter

0700840
Hari ini
Kemarin
535
1132