Mari Elka Pangestu : “Saling Menghargai, Saling Mendengar”

Mari Elka PangestuKesempatan tidak akan pernah datang dua kali. Ketika ia hadir di depan mata, hal terbaik yang harus segera dilakukan adalah ‘menangkapnya’ sebelum ia pergi tanpa memberi kesan. Barangkali gambaran itulah yang pas untuk melukiskan keberadaan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu di Gereja Katedral, Minggu, 8 Desember lalu. Kehadirannya dalam rangka mengikuti misa yang ke-2 pukul 07.00 WIB.

Tak pelak situasi yang tidak biasa ini mengejutkan beberapa orang. Mereka tidak menyangka ada ‘tamu penting’ di tengah-tengah mereka. Maka tidak aneh bila kemudian setelah misa berakhir, beberapa di antara mereka mengambil kesempatan untuk berfoto bersama.

Ditemui seusai misa, perempuan yang memiliki nama baptis Maria Sisilia ini mengungkapkan bahwa kedatangannya di Semarang dalam rangka menghadiri Festival Film Indonesia (FFI) 2013. Kebetulan tempatnya menginap dekat dengan Gereja Katedral, maka ia menyempatkan diri singgah di gereja ini. “Kalau ke kota manapun yang kita cari selalu Katedral.

Pertama karena sudah pasti ada di pusat kota dan kedua pasti sudah lama,” tutur Mari, sapaan akrabnya. “Saya lihat tempat ini masih dirawat dengan baik, masih bagus sekali gerejanya, dan yang lebih penting tentunya suasananya sangat damai, sangat bagus, dan sangat kelihatan kerukunan antara warga paroki,” tambahnya lebih lanjut.

Berkaitan dengan Gereja Katedral yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan pengaruhnya bagi pariwisata di kota Semarang, Mari yang lahir di Jakarta, 23 Oktober 1956 berpendapat bahwa hal ini sangat bagus. “Ini kan di tengah kota, dekat dengan Lawang Sewu. Dari segi kota Semarang seharusnya menjadi pusat dan daya tarik wisata. Sebagai cagar budaya saya harap dirawat terus dan mungkin bisa dibuat cerita mengenai sejarah dari Katedral ini dan tokoh-tokoh yang muncul di sini. Jadi kalau kita bicara wisata itu it’s all about story. Kita harus punya cerita yang menarik dan ada atribut yang menarik. Kalau kita mengunjungi Katedral-katedral di luar negeri pasti ada cerita sejarahnya dan biasanya ada tour guidenya. Jadi mungkin perlu juga dilatih ada tour guide,” ucap putri J. Panglaykim, seorang ekonom terkenal di Indonesia.

Mengingat Gereja Katedral yang sudah berusia 85 tahun, selain harus terus dijaga dan dirawat, istri Adi Harsono yang pernah mengenyam pendidikan di Australian National University sampai mendapatkan gelar Bachelor dan Master of Economics juga berharap gereja ini dapat dijadikan tempat untuk misa dan untuk masyarakat berkumpul.

“Karena lokasinya di tengah kota sangat bisa digunakan untuk banyak hal. Tidak harus urusan dengan yang katolik tetapi banyak hal yang lain seperti pelayanan masyarakat dan bakti sosial. Mengingat ini benar-benar dekat Lawang Sewu, dekat mana-mana, mungkin bisa dibuat acara-acara khusus dan saya rasa ini juga simbol toleransi Indonesia,” terang Mari.

Tentang toleransi inilah yang coba diangkat kembali oleh panitia natal nasional karena belakangan ini banyak hal yang dirasa mengganggu, banyak kejadian yang mungkin akan mempengaruhi kekuatan Indonesia.

“Toleransi dan kebersamaan antar agama berbeda, antara etnis yang berbeda, dan antara orang dari daerah yang berbeda itu bisa luntur kalau tidak kita jaga. Saya selalu percaya kekuatan Indonesia itu kebersamaan kita, toleransi kita, dan mungkin respect. Kita saling menghargai, saling mendengar antara masyarakat walaupun agamanya berbeda, dan saling juga silaturahmi maupun memberi pertolongan pada saat diperlukan,” pungkas Mari yang pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan Indonesia periode 2004-2011 menutup pembicaraan.

Berkat - Goen

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 29 guests and no members online

Visitors Counter

0669917
Hari ini
Kemarin
63
312