Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi, Pr - Tersedia dan Bersedia

Oktober tahun ini Paroki Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci (SPM RRS) Randusari Katedral Semarang merayakan HUTnya yang ke-85. Apa yang menjadi pemikiran, keprihatinan, dan harapan menyambut ulang tahun yang ke-85 ini? Berikut hasil wawancara dengan Rm. A.G. Luhur Pihadi, Pr bersama redaksi Berkat beberapa waktu lalu.

 

Romo diserahi tanggung jawab sebagai Vikep Semarang sekaligus Romo Kepala Paroki Katedral Semarang, 4 Oktober 2012. Kini, setelah setahun berlalu, bagaimana Romo melihat dinamika kehidupan umat di paroki ini?
Satu tahun yang lalu, tepatnya tg 4 Oktober 2012, saya diserahi tanggung jawab sebagai Pastor Kepala Paroki Katedral Semarang, sekaligus sebagai Vikep Kevikepan Semarang. Selama satu tahun itu, saya belajar sambil melayani umat sesuai dengan tugas dan tanggung jawab saya. Dalam hal ini, dinamika kehidupan umat menjadi salah satu bahan pembelajaran saya.

Dinamika kehidupan umat ini bisa dibagi menjadi dua yaitu umat pada umumnya dan umat yang menjadi anggota Dewan Paroki. Umat pada umumnya memang sangat dinamis dengan berbagai kegiatannya di lingkungan, wilayah, maupun paroki.

Ketulusan, loyalitas, totalitas, komitmen yang tinggi, bisa kita temukan dalam keterlibatan umat yang terlihat aktif di berbagai kegiatan. Sementara anggota Dewan Paroki juga mempunyai dinamika tersendiri; jumlah orangnya hanya sebagian kecil dari jumlah umat keseluruhan; namun ada berbagai macam karakter yang mempengaruhi dinamika kehidupan Dewan Paroki.

Sudah 85 tahun usia Paroki Katedral ini, dan saya yakin bahwa selama itu pula pola pelayanan kepada umat terus menerus semakin ditingkatkan sehingga semua bisa terlayani. Keadaan umat paroki yang hampir serba kecukupan bisa menumbuhkan sikap (mungkin juga karakter) menunggu dilayani dan tidak perlu ada hal-hal baru yang “merepotkan” karena harus terlibat di dalamnya.

Ambil contoh: ajakan untuk kerja bakti “resik-resik gereja” ditanggapi dengan cara yang berbeda-beda, ada yang dengan penuh semangat ikut terus, ada yang merasa kesulitan mencari waktu, tapi ada juga yang berkata “walah, ramanya sekarang ini aneh-aneh; ada juga yang merasa pesimis (ajakan itu pasti tidak akan berhasil).

Apakah umat di paroki ini sungguh telah merasa ‘handarbeni’ terhadap parokinya? Mengapa? Jika belum atau masih kurang, apa yang sebaiknya dilakukan?
Rasa handarbeni atau sense of belonging sama dengan rasa memiliki, tetapi dengan cara dan untuk sesuatu yang positif. Rasa memiliki terhadap paroki berarti kesadaran bahwa paroki dengan segala kehidupannya serta kegiatannya merupakan bagian dari tanggungjawabnya.

Melihat dinamika umat Paroki Katedral sekarang ini, memang kesadaran memiliki tanggung jawab sudah ada dan kuat pada diri sebagian umat. Selain itu, masih ada sebagian kecil yang tingkat kesadarannya kurang, sehingga ketika mengalami kekecewaan sedikit saja terhadap orang (tersinggung, merasa tidak “dipakai”, tidak “diaruhke”/disapa) kemudian mutung atau ngambeg.

Tahun ini, Paroki Katedral merayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke-85 tepatnya pada 7 Oktober 2013. Tema perayaan yang digagas oleh panitia adalah “Tersedia dan Bersedia”. Menurut Romo, apa makna dari tema ini? Bagaimana implementasinya untuk umat?
Tema HUT Paroki Randusari – Katedral ke-85 ialah TERSEDIA DAN BERSEDIA. Dua kata yang disambung dengan kata “dan” itu memuat gambaran tentang situasi dan sikap. Keduanya merupakan harapan atau cita-cita. Sebab yang dimaksud dengan TERSEDIA adalah situasi dimana segala sesuatu yang dibutuhkan itu ada.

Butuh pengurus, kepanitiaan, sarana-prasarana, dana, semuanya ada. Tetapi apakah memang sudah demikian? Dari panitia sendiri mengatakan bahwa tema itu dipilih karena adanya suatu keprihatinan yang mendalam akan situasi paroki Randusari – Katedral. Keprihatinan itu adalah masih sulitnya mencari personil-personil yang mau dengan mudah dan tulus terlibat dalam kepengurusan Dewan Paroki, petugas-petugas liturgi (prodiakon, lektor, organis, dirigen), kepanitiaan, sukarelawan dalam kerja bakti, pemandu lingkungan, pamong lingkungan, dan lain sebagainya.

Jadi situasinya memang BELUM TERSEDIA. Sedangkan yang dimaksud dengan BERSEDIA adalah sikap umat yang menghayati spiritualitas Maria, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu”.

Sikap seorang hamba yang siap sedia terlibat dalam karya-karya Allah dalam Gereja. Jadi, belum menjadi sikap dasar bagi setiap umat untuk selalu BERSEDIA. Oleh karena itu tema HUT Paroki Randusari ke-85 “TERSEDIA DAN BERSEDIA” lebih merupakan harapan ke depan. Padahal mestinya, setelah paroki ini berdinamika selama 85 tahun, apa yang dibutuhkan selalu TERSEDIA, dan kalau ada yang membutuhkan selalu BERSEDIA.

Dalam kaitannya sebagai induk dari paroki-paroki lain di Keuskupan Agung Semarang, apakah Paroki Katedral sudah menunjukkan perannya sebagai Mater et Caput dan Mater et Magistra? Mengapa?
Sudah sering kita dengar adanya istilah MATER ET MAGISTRA (Ibu dan Guru). Ini adalah sebutan untuk Gereja.

Menjadi ibu berarti menjadi induk, sedang menjadi Guru berarti menjadi teladan (orang jawa mengartikan “digugu lan ditiru”). Sebagai konsep, paroki Katedral memang menjadi MATER ET MAGISTRA. Tetapi dalam realitasnya, tentu kita masih harus mawas diri, lebih kritis terhadap realitas dinamika kehidupan dan kualitas hidup beriman kita.

Salah satu pendukung agar Paroki Katedral sungguh menjadi MATER ET MAGISTRA adalah kekompakan Dewan Paroki dalam bekerja (sehati meskipun beda pendapat); kualitas iman Dewan Paroki (dalam pengungkapannya = rajin berdoa dan beribadat/ekaristi, dan dalam perwujudannya = handal, tidak mutungan, semangat korps dalam iman dan cinta kasih).

Dengan pemahaman akan tema “TERSEDIA dan BERSEDIA” yang masih merupakan cita-cita, berarti Paroki Katedral belum menunjukkan jatidiri sebagai MATER ET MAGISTRA. Penyebabnya bisa bermacam-macam, misalnya motivasi seluruh umat dalam melibatkan diri yang masih dangkal (terpaksa), pertimbangan senang dan tidak senang, komitmen yang kurang terhadap panggilan dan perutusan, dasar pengetahuan dan penghayatan iman yang kurang. Situasi ini merupakan tantangan tersendiri bagi Paroki Katedral untuk masa mendatang.

Harapan Romo untuk Paroki Katedral yang sedang merayakan HUTnya yang ke-85 baik untuk para Romo, Pengurus Gereja, maupun umat?
Harapan saya terhadap seluruh umat bersama para pengurus Dewan Paroki dan gembalanya ialah terciptanya semangat persaudaraan cinta kasih sejati di antara semuanya, menimba spiritualitas hamba setia dari Bunda Maria Ratu Rosario Suci, dan menghayati semangat Rosario yang selalu bersama dalam semangat solidaritas/belarasa satu terhadap yang lain, mengutamakan kepentingan bersama daripada ambisi pribadi. Harapan lain ialah semoga seluruh umat baik yang berdomisili di Paroki Katedral maupun umat dari luar paroki yang terlibat hadir dalam kegiatan/dinamika Paroki Katedral diberkati oleh Tuhan dan bisa menampilkan wajah cinta kasih Gereja kepada siapapun.

Data Pribadi
Nama : ALOYSIUS GONZAGA LUHUR PRIHADI PR
Tempat/Tanggal lahir : Magelang/10 Januari 1966
Status : anak ke-3 dari 5 bersaudara
Nama Orang Tua : Petrus Raharto – MM. Wartini
Asal Paroki : St. Theresia Salam
Tahbisan Imam : Kentungan, 8 September 1993
Perjalanan Imamat :
1993 – 1995 – studi licensiat teologi di kentungan
1995 – 1996 – pastor pembantu di paroki Baciro - Yogyakarta
1996 – 2000 - staf seminari tinggi St. Petrus Pematangsiantar – Medan
2000 – 2002 – pastor pembantu di paroki katedral
2000 – 2004 – Ketua Komisi PSE KAS dan Ketua Pengurus YSS (tinggal di katedral)
2004 – 2011 - tugas yang sama (tinggal di pastoran Tanahmas)
2011 – 2012 – Pastor kepala paroki St. Mario Lourdes Sumber – Magelang
2012 - - Pastor kepala paroki Katedral dan Vikaris Episkopalis Semarang

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 29 guests and no members online

Visitors Counter

0669916
Hari ini
Kemarin
62
312