Berani Mencabut Sampah Visual, Yukkk!!!


Berbicara tentang sampah visual (iklan luar ruang yang dipasang tidak sesuai dengan peruntukkannya, dimana peruntukkan tersebut menjadi hak dari pemerintah dalam menentukan titik-titik space iklan pada suatu daerah), beberapa di antara kita, khususnya bagi mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV), pasti tidak asing dengan sosok yang bernama Sumbo Tinarbuko.

Pria paruh baya ini bahkan sering kali menjadi ikon dari kegiatan yang “berbau” sampah visual. “Ketika ngomong sampah visual, pasti kelingane Sumbo!” ungkapnya sambil tertawa.

Semua berawal ketika ia diminta untuk menjadi Dosen Kritik Iklan sekitar tahun 2003/2004 yang lalu. Mata kuliah Kritik Iklan ini mensyaratkan mahasiswa untuk mampu “melihat” iklan, kemudian dapat menunjukkan kelemahan dari iklan tersebut, baik dari sisi pelanggarannya ataupun desain yang mungkin kurang bagus.

Oleh karena itu, pria yang berasal dari Jakarta ini melakukan survey terlebih dulu melalui pengamatan iklan dari berbagai media (iklan televisi, media cetak, dan iklan luar ruang). Berdasarkan pelanggarannya, Sumbo menyatakan bahwa obyek yang perlu dikritisi adalah iklan televisi dan iklan luar ruang.

Dalam hal ini, mendokumentasikan iklan luar ruang lebih mudah dilakukan daripada iklan televisi. Di Indonesia, iklan luar ruang yang melanggar etika pariwara diantaranya seperti iklan luar ruang yang memaksakan kehendak di dalam pesannya dan iklan luar ruang yang dipasang tidak sesuai dengan peruntukkan.

Dosen DKV Fakultas Seni Rupa dan Program Pascasarjana ISI Yogyakarta ini kemudian lebih mempertajam pada iklan luar ruang yang dipasang tidak sesuai dengan peruntukkannya.

Selain mengajar, Sumbo juga telah banyak menulis artikel mengenai sampah visual. Ia bahkan mendokumentasikan tentang kelemahan iklan dan membagikan informasi tersebut lewat jejaring sosial, facebook.

Kemudian ia disarankan oleh beberapa rekannya agar membuat grup dan fan page sampah visual untuk akses interaksi bagi yang tidak berteman dengannya di facebook. Setelah memberikan banyak wacana mengenai sampah visual, pria yang pernah aktif menjadi wartawan pada tahun 1987-1998 ini merasa bahwa tanpa adanya aksi, perubahan, ataupun langkah kongkrit, seolah-olah ia seperti seorang dosen yang jarkoni (iso ujar, ora iso nglakoni). “Kalo jadi dosen ketika ngangkat masalah ya harus bisa memberikan solusi” tegasnya.

Maka ketika pameran “DKV Bertindak” sekitar 19 Juni 2012, ia merespon tindakan mahasiswa Kritik Iklan (DKV IV) dengan mengarahkan para mahasiswa tersebut untuk mencabuti sampah visual di sekitar kampus ISI (Sewon) sepanjang 3 km. Sampah visual yang dicabut adalah spanduk dan sejenisnya yang dipasang di tiang telepon, tiang listrik, dan yang dipakukan di batang pohon.

Dalam aksi tersebut, sampah visual yang terkumpul sebanyak 1 mobil pick-up. Sampah visual ini selanjutnya dibakar pada malam harinya sembari bernyanyi bersama seperti layaknya kegiatan api unggun. Acara tersebut bahkan di-share di YouTube dengan judul “reresik sampah visual”.

Dari sinilah titik awal nama reresik sampah visual mulai berkibar. Bahkan hingga aksi yang ke-14 pada 15 September 2013 lalu, aksi pencabutan sampah visual didokumentasikan oleh tim Eagle Award dan akan ditayangkan pada pertengahan bulan Oktober ini.

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 146 guests and no members online

Visitors Counter

0685034
Hari ini
Kemarin
577
590