Mereka Adalah Saudara Kita

Rm. Alexius Dwi Aryanto, Pr
Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Semarang


Istilah KLMTD kiranya sudah tidak asing lagi bagi umat di Keuskupan Agung Semarang. Banyak yang (mungkin) sudah mengerti artinya. Banyak pula yang (mungkin) sudah terlibat di dalamnya. Agar pemahaman umat semakin ‘terang benderang’, kami menghadirkan sosok Rm. Alexius Dwi Aryanto, Pr dalam rubrik Wawancara kali ini. Berikut hasil wawancara lengkapnya yang kami lakukan secara tertulis beberapa waktu lalu.

Di gereja Katolik, khususnya di Keuskupan Agung Semarang, kita mengenal istilah Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir dan Difabel (KLMTD). Apa maksud istilah ini dan bagaimana penjabarannya?

Istilah-istilah tersebut sebenarnya sudah dijabarkan secara lengkap dalam Nota Pastoral Ardas KAS 2011-2015. Saya kutipkan saja dari Nota Pastoral tersebut halaman 26-27. Istilah yang kecil, dimaksudkan atau dimengerti sebagai mereka yang tidak diperhitungkan keberadaannya.

Saya bisa tambahkan di sini misalnya orang yang tidak mempunyai jabatan publik dan tidak mempunyai kekuatan untuk menyuarakan pendapat. Yang dimaksud dengan yang lemah adalah mereka yang membela dirinya pun tidak bisa. Kita bisa mengambil contoh misalnya, ibu Minah yang beberapa waktu yang lalu menjadi berita di Koran atau televisi. Ia yang mengambil tiga buah kakao dan diadili dan akhirnya divonis oleh hakim. Ia termasuk orang yang lemah berhadapan dengan hukum yang berlaku.

Semestinya ia yang harus dibela namun justru sebaliknya ia yang dipenjara. Bandingkan dengan para koruptor, bagaimana hukum di Indonesia. Ibu minah tergolong orang yang lemah. Miskin, artinya hidup serba terbatas bahkan kekuarangan dalam pangan, sandang, papan. Orang yang tergolong miskin adalah mereka yang tidak mampu mencukupi kebutuhan-kebutuhan dasarnya.

Banyak sekali contoh yang kita temukan dalam hidup di sekitar kita. Bisa kita lihat misalnya yang ditayangkan dalam program “Orang Pinggiran”, Trans7 setiap hari pk.17.15-18.00. Orang-orang yang ditampilkan di sana adalah orang-orang yang betul-betul miskin. Kadang pendapatan mereka sehari hanya Rp 10.000,- Untuk makan saja tidak cukup, apalagi untuk kebutuhan lainnya.

Tersingkir, sebenarnya hampir sama dengan mereka yang lemah dan miskin. Mereka adalah orang-orang yang tidak diperhitungkan baik secara sosial, ekonomi maupun politik. Secara sosial bisa kita sebut misalnya mereka yang menjadi korban-korban kebijakan publik yang tidak berpihak kepada rakyat. Misalnya pedagang kecil yang harus digusur karena tempat mereka berjualan dijadikan mall atau tempat lain untuk para pedagang yang bermodal besar. Difabel (Different Ability), adalah mereka yang mempunyai keterbatasan secara fisik (cacat), atau mereka yang berkebutuhan khusus, anak cacat ganda misalnya.

Apakah gereja sendiri sudah cukup terlibat dengan kaum KLMTD? Bagaimana bentuk keterlibatannya?
Keterlibatan Gereja terhadap mereka yang tergolong KLMTD sudah banyak dilakukan. Banyak paroki yang memanfaatkan Dana Papa Miskin dan Dana APP Paroki untuk membantu mereka. Wujudnya pun bermacam-macam. Ada yang bersifat karitatif ataupun pemberdayaan.

Banyak paroki yang membantu orang-orang miskin dengan memberikan bantuan berupa sembako. Ada pula dan saya kira sudah banyak dilakukan di paroki-paroki adalah bea siswa bagi anak dari keluarga tidak mampu. Di Keuskupan kita juga ada gerakan 5 roti dan 2 ikan.

Anak-anak sekolah setiap tanggal 7 menyisihkan sebagian uang sakunya untuk membantu anak-anak yang tidak mampu. Terhadap yang difabel, Gereja juga menaruh kepedulian dan perhatian. Di KAS ada Yayasan Sosial Soegijapranata. Kantornya berada di Jl. Imam Bonjol 172 Semarang. Yayasan ini mengelola 3 Panti Wredha dan 1 Panti Anak Cacat Ganda. Mereka yang tergolong cacat ganda adalah cacat fisik dan mental.

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 35 guests and no members online

Visitors Counter

0669923
Hari ini
Kemarin
69
312