Jiwa Saya Adalah Mereka

Ketertarikan Chatarina Rina P. pada bidang sosial bermula ketika ia mengerjakan skripsinya yang mengambil topik anak jalanan pada tahun 2002.

Selesai pendidikan, perempuan kelahiran Batang, 4 September 1980 yang biasa dipanggil Rina ini kemudian bergabung dengan Yayasan Sosial Soegijapranata (YSS) untuk menjadi pendamping anak jalanan. Tahun 2004, ia mulai tertarik pada bidang yang baru yaitu menjadi pendamping ODHA (orang dengan HIV/AIDS).

Selepas dari YSS, bersama teman-temannya Rina mendirikan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Kalandara (=sinar matahari, bahasa sansekerta) yang bergerak di bidang kesehatan khususnya pendampingan terhadap penderita HIV/AIDS. Hingga kini, aktivitas sehari-hari Rina adalah memberikan pengarahan dan pendampingan terhadap orang-orang yang beresiko tertular virus HIV, atau disebut kelompok beresiko/populasi kunci, seperti wanita pekerja seks (WPS), waria, pasangan sesama jenis baik laki-laki suka laki-laki (LSL) maupun perempuan suka perempuan (PSP), high risk man (HRM) atau laki-laki dengan kehidupan seks tidak sehat, dan pengguna narkotika suntik.

Rina yang merupakan koordinator lapangan dari LSM Kalandara ini, aktif memberikan pendampingan di empat kota dan kabupaten (kabupaten Wonosobo, kabupaten Kebumen, kabupaten dan kota Magelang) bekerja sama dengan beberapa funding di antaranya dari Amerika, Jepang, Global Fund, bahkan kelompok agama seperti NU (Nahdlatul Ulama) juga turut mendukung sosialisasi tentang pencegahan HIV/AIDS.

Di kota Semarang sendiri, fokus pendampingan saat ini dilakukan bagi pekerja konstruksi pembangunan waduk Jatibarang dan normalisasi Banjir Kanal Barat dengan sasaran pendampingan kategori HRM yakni laki-laki yang memiliki mobilitas tinggi dan bekecukupan dalam hal finansial, sehingga cenderung memanfaatkan uang yang dimiliki untuk “jajan”, memenuhi hasrat seksualnya, karena kebanyakan berada jauh dari keluarga.

Selain sosialisasi, Rina juga mengadakan pemeriksaan VCT dan pemberdayaan populasi kunci sejak Februari 2013 hingga Juni 2015. Pemberdayaan tersebut dilakukan oleh OHIDA (orang hidup dengan HIV/AIDS), yang merupakan pendamping dari ODHA. Sering pula diadakan peer educator sebagai sarana untuk berkumpul dan sharing bersama yang kemudian menjadi dukungan dan semangat bagi para penderita HIV/AIDS yang tergabung dalam Kelompok Dukungan Sebaya (KDS).

Banyak penolakan terjadi awal Rina melakukan pendampingan kepada WPS karena takut jika kisah hidup mereka akan diberitakan kepada khalayak. Sering kali mereka beranggapan Rina adalah wartawan yang mencoba mengusik kehidupan para WPS. Namun, lama-kelamaan mereka dapat menerima keberadaan Rina.

Bahkan tak jarang mereka menganggap Rina sebagai sahabat yang layak diajak sharing dan berkonsultasi tentang kesehatan mereka. Rina menyediakan diri 24 jam sewaktu-waktu dihubungi mereka untuk sharing maupun konsultasi. Setelah diberikan edukasi, banyak WPS yang menganjurkan para “tamu”nya agar menggunakan kondom sebagai upaya mencegah terjangkitnya virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh tersebut.

Tidak hanya kepada WPS saja, edukasi juga diberikan bagi para calon TKW dan para pelajar (usia sekolah). Calon TKW mendapatkan test HIV terlebih dahulu sebelum diberangkatkan ke luar negeri. Edukasi yang diberikan diharapkan dapat menjadi pegangan pengetahuan bagi mereka agar aman meskipun tidak berada di negaranya sendiri. Penyuluhan terhadap para calon TKW bekerjasama dengan BP3TKI Jawa Tengah. Penyuluhan terhadap para pelajar di sekolah-sekolah lebih ditekankan pada pencegahan free sex dan penggunaan narkoba agar terhindar dari virus HIV.

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 140 guests and no members online

Visitors Counter

0685028
Hari ini
Kemarin
571
590