“Media Sosial Selalu Bernilai Positif”

Pendapat itu dilontarkan oleh Rm. Petrus Noegroho Agoeng Sriwidodo, Pr saat wawancara secara tertulis dengan BERKAT beberapa waktu lalu. Lebih jauh, anak kelima dari enam bersaudara pasutri I. Tukiman dan M Sukastini yang ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 5 Juli 1999 ini mengatakan bahwa dampak positif dan negatif media sosial tergantung pada siapa yang memegangnya. “Who is man behind the gun,” ujar Romo yang beralamat di Domus Pacis Puren, Gg Lada, Condongcatur, Depok, Sleman Yogyakarta. Berikut petikan wawancara lengkapnya.

Hari Komunikasi Sedunia diperingati secara khusus. Apa alasannya? Mengapa selalu jatuh pada hari Minggu Paskah ke VII?

Gereja pada Konsili Vatikan II melihat bahwa penemuan teknologi komunikasi merupakan penemuan yang mengagumkan. Penemuan-penemuan di bidang ini sangat bermanfaat bagi Gereja untuk semakin menghadirkan Kerajaan Allah namun sekaligus merupakan tantangan yang perlu disikapi dengan benar dan tepat (bdk IM 1).

Pesan untuk hari komsos biasanya ditulis oleh Bapa Suci dan dipublikasikan pada hari St. Fransiskus de Sales, tgl 25 Januari. Sedangkan Hari Komsos selalu jatuh pada hari minggu VII paskah. Apa yang menjadi alasan? Fransiskus de Sales adalah pelindung para jurnalis. Sehingga gampang kita mengaitkan kenapa surat paus itu dengan hari frasiskus de Sales.

Lalu kenapa hari Komsos pada minggu ke-7 paskah saya tidak menemukan alasan yang pasti kecuali mencoba mengaitkan peristiwa kebangkitan yang masih bergema dalam masa paskah mendorong Gereja untuk bangkit dan bergerak bersahabat dengan kemajuan tehnologi komunikasi guna menyampaikan warta Kerajaan Allah.

Tahun ini tema yang diambil adalah “Jejaring Sosial: Pintu Kebenaran dan Iman, Ruang Baru untuk Evangelisasi”. Apa yang mendasari Gereja memilih tema ini?
Kita semua menyadari bahwa pertama-tama, salah satu ciri manusia adalah mahkluk sosial yang berkomunikasi dan berkelompok, berjejaring. Ia menjadi makin hidup dan nyata identitasnya kala berinteraksi dengan sesama dan seluruh ciptaan yang lain. Para ahli tehnologi komunikasi dan juga para pebisnis melihat kenyataan itu sebagai peluang mereka.

Mereka ingin mendekatkan antar manusia dengan mengembangkan aneka macam aplikasi jejaring sosial. Dan pada kenyataannya respon masyarakat sangat luar biasa. Beratus-ratus juta orang memanfaatkan sarana tersebut. Gereja yang berada di tengah dunia tidak bisa memungkiri kenyataan tersebut. Maka Gereja pun tidak bisa mengurung diri hanya pada cara-cara tradisional. Sarana ini bisa sangat membantu proses evangelisasi.

Jejaring sosial sudah bukan menjadi barang asing lagi di antara kehidupan manusia. Seringkali ketika bangun tidur orang mulai mencari handphonenya terlebih dulu daripada hal-hal lainnya. Mereka lebih resah dan gelisah kehilangan handphone daripada lupa menjemput anaknya. Social networking selalu laris dipilih orang. Intinya sarana tehnologi komunikasi pada saat ini sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Maka Bapa Suci, khususnya Benedictus XVI, selalu mengangkat tema ini di dalam pesan hari Komsos dan mengajak umat untuk memanfaatkannya sebagai ruang baru bagi evangelisasi.

Menurut pandangan Romo, bagaimana perkembangan media sosial saat ini? Apakah berdampak positif atau malah memberi pengaruh buruk (negatif)? Mengapa?
Semua sarana tehnologi diciptakan untuk membantu manusia mencapai kesejahteraan hidup. Begitu juga media sosial. Maka pada dirinya media sosial selalu bernilai positif. Hanya dampaknya bisa positif atau negatif tergantung pada siapa yang memegangnya (who is man behind the gun). Maka saya berani mengatakan bukan media sosial yang memberi dampak negatif, tapi para pelaku atau pengguna media tersebut yang bisa membuatnya berdampak negatif.

Dewasa ini jejaring sosial makin populer dalam masyarakat. Bahkan banyak orang yang bisa dikatakan “kecanduan” dengan jejaring sosial ini. Bagaimana kita harus bersikap jika menjumpai saudara, sahabat, teman atau orang-orang yang kita sayangi masuk dalam taraf “kecanduan” ini? Dan bagaimana baiknya agar kita tidak ikut terjerumus di dalamnya?
Bapa Benedictus pada tahun 2009 pernah mengingatkan agar sekalipun kita dimudahkan dengan aneka macam sarana tehnologi komunikasi, kita tidak bisa menghilangkan komunikasi tradisional, tatap muka. Ketika bertatap muka dengan orang lain kita berfokus pada yang sedang kita hadapi. Jangan sampai sarana itu malah membuat jauh yang dekat. Bagaimanapun juga relasi-komunikasi dalam jejaring sosial adalah relasi maya, bukan nyata. Di sana memuat jutaan kemungkinan untuk bohong, menipu dll. Maka Komsos KAS sejak tahun 2009 membuat semboyan: "Yang jauh jadi dekat, yang dekat makin akrab". Kita perlu terus menerus belajar untuk memanfaatkan sarana tersebut dengan bijak dan tidak tergerus olehnya. Dibutuhkan pribadi-pribadi yang mampu memberikan orientasi yang jelas, benar dan dapat diterima dengan baik.

Apakah media sosial dapat digunakan sebagai sarana untuk memperkembangkan iman? Mengapa? Bagaimana caranya?
Pasti bisa. Ada banyak muatan yang bisa memperkaya pengetahuan dan penghayatan iman. Caranya ada banyak. Salah satu yang bisa saya sebutkan adalah bahwa kita tidak perlu malu, takut dan khawatir menyampaikan pesan iman kepada siapapun juga, khususnya orang muda.

Saran dan harapan Romo khususnya kepada kaum muda dalam menyikapi media sosial?
Orang muda silakan terus menerus mempelajari, mengembangkan atau minimal memanfaatkan sarana tersebut tanpa harus hanyut dalam arus tersebut. OMK mesti membangun keberanian menjadi rasul-rasul media sosial demi jalannya evangelisasi.
Orang muda perlu membicarakan dan mempunyai pendamping yang bisa memberikan orientasi yang bijak.

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 209 guests and no members online

Visitors Counter

0700891
Hari ini
Kemarin
586
1132