Bagi Kami, Semua adalah Saudara

Resto Kong dan Mak
Kisah Kong Andreas Surawi dan Mak Maria Agnes Tatik Handayani
“Kalau mau mencari rumah kami, setelah jembatan Jl. MH. Thamrin belok kiri. Kemudian lewat pinggir sungai. Rumah kami di pinggir sungai, ada di pojok gang,” ucap Andreas Surawi atau Kong Wi dengan rinci saat memberikan ancer-ancer ketika awak BERKAT bermaksud main ke rumahnya. “Tapi kalau mau ke rumah hari Minggu saja saat kami libur, tidak jualan,” imbuhnya.

 

Itulah obrolan santai saat kami dengan sengaja berkunjung dan mencicipi menu yang ditawarkan warung makan tenda “KONG dan MAK”, di salah satu sudut Jl. Seteran. Warung milik Kong Wi dan Mak Hwa, sapaan istrinya yang bernama lengkap Maria Agnes Tatik Handayani, ternyata jauh dari bayangan kami sebelumnya. Sebuah warung tenda kecil yang hanya menyediakan satu meja panjang dengan 8 buah kursi untuk pengunjung. Andai kursi penuh, aktivitas makan pun terasa kurang nyaman karena harus berdesak-desakan.

Pengunjung yang tidak kebagian tempat disediakan kursi ala kadarnya barang 2-3 buah. Lebih dari itu pengunjung rela berdiri untuk menanti atau menikmati pesanannya. Di tenda yang sempit terlihat Kong sibuk di balik gerobaknya untuk menyiapkan pesanan pengunjung, sedangkan di sebelahnya Mak asyik menggoreng beberapa jajanan untuk disuguhkan di meja. Aktivitas ini terjadi setiap malam dari Senin hingga Sabtu.

Warung tenda “KONG dan MAK” sebenarnya tidak jauh berbeda dengan warung tenda lainnya, malah mungkin terkesan kurang diperhitungkan jika melihat posisi tempat yang tidak berada di pusat keramaian orang beraktivitas malam hari serta penataannya yang kurang menarik. Namun ada hal yang cukup unik yang membedakannya dari warung tenda yang lain. Tiap malam hanya ditawarkan satu menu masakan dan berganti setiap hari. Jadi, selama 6 hari ada 6 menu yang disajikan. Keunikan inilah yang menjadi daya tarik sehingga warung ini selalu dipadati pengunjung. Terlihat dari deretan mobil dan motor yang parkir tiap malam.

Kong Wi atau Surawi (64) berasal dari desa Sendang, masih 18 km dari kota Jepara. Sedangkan Mak Hwa atau Agnes (70) berasal dari Baturetno. Agnes dibaptis tahun 1960an sesaat setelah ia menginjakkan kakinya di Semarang, ikut salah seorang kerabatnya di daerah Gang Baru. Sebaliknya, Surawi dibaptis saat berusia empat puluhan, kurang lebih dua puluh tahun yang lalu ketika akan menikah dengan Agnes. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Oktavius Felix Wahyu Kurniawan, biasa dipanggil Felix (17), yang tahun ini baru lulus dari SMU Theresiana Semarang.

Surawi muda adalah seorang penjahit pakaian. Seiring dengan bertambahnya usia, indera penglihatannya mulai berkurang dan itu sangat mengganggu pekerjaannya. Ia kemudian berhenti menjahit dan alih profesi menjadi satpam di salah satu Gereja Kristen di daerah Jl. Dr. Cipto. Karena menyadari usianya yang sudah tidak lagi muda dan tenaganya yang tidak sekuat dulu untuk bekerja siang malam walau dijalani secara shift, Surawi memilih untuk pensiun.

Berbeda dengan Agnes. Ia memiliki lebih banyak pengalaman kerja. Mulai dari tukang masak hingga penjaga toko kelontong ia lakoni sampai akhirnya ia memutuskan berhenti bekerja mengingat tenaganya yang mulai berkurang karena bertambahnya usia.
Biaya hidup dan sekolah anak yang harus tetap terpenuhi mendorong mereka untuk kembali bekerja. Dan, sejak tiga tahun yang lalu mereka memutuskan untuk mencoba berjualan makanan di malam hari.

“Waktu itu seorang tetangga kami yang baik hati menyarankan agar kami mencoba berjualan makanan di malam hari. Mak yang memasak dan saya yang bantu-bantu,” ujar Surawi menceritakan kisahnya. Awalnya Agnes ragu-ragu menerima tantangan itu. Ia merasa tidak pandai memasak dan menyadari usia yang sudah tidak lagi muda. Namun sang tetangga tetap memberi semangat dengan mengusulkan menjual makanan dengan satu menu saja.

Maka muncullah ide membuka warung makan yang menawarkan menu yang berbeda tiap harinya. Agnes yang sadar dengan kondisi fisiknya mengatakan, “Saya tidak punya tenaga lebih untuk memasak beberapa masakan, tapi karena tuntutan kebutuhan hidup, kami tetap harus bekerja dan berusaha.”

Berawal dari dukungan tetangganya tersebut, mereka berdua mulai merintis usaha warung makan yang buka dari jam 19.00 – 05.00 tiap hari Senin-Sabtu, di tanah kosong depan rumah milik seorang dokter. “Istilahnya kami masih nunut tempat berjualan. Siang hari area itu digunakan untuk berjualan nasi bungkus, sedangkan kami menggunakannya di malam hari,” tutur Agnes.

Menu-menu yang disajikan warung makan “KONG dan MAK”; Senin-asem-asem daging; Selasa-sop bakso; Rabu-rawon daging sapi; Kamis-lontong opor; Jumat-sayur asin daging ayam; dan Sabtu-sayur lodeh. Setiap hari sudah ada pelanggan tersendiri, sesuai menu yang disukai. Di antara hari-hari yang ada paling ramai biasanya hari Kamis.

Resiko sebagai penjual makanan pun mereka sadari. Dalam semalam dagangan bisa ludes diserbu pengunjung, tapi sekali dua kali masih ada sisa atau terjual separo. Keadaan demikian tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap bertahan berjualan makanan. Ramai-sepi, dagangan habis atau masih ada sisa tetap mereka syukuri. Dagangan habis sebelum jam 05.00 atau tidak habis, mereka tetap menutup warung jam 05.00 karena tergantung dari becak jemputan yang menjadi langganan mereka.

Sepulang dari berjualan, Surawi dan Agnes meluangkan waktu untuk beristirahat barang sejenak. Setelah itu dengan sepeda onthel mereka berboncengan pergi belanja ke pasar Gang Baru dan pasar Prembaen guna membeli kebutuhan bahan masakan untuk hari berikutnya. Tiap hari mereka membeli sayuran dan daging segar karena tidak memiliki lemari pendingin yang dapat digunakan untuk menyimpan bahan masakan.

Sepulang dari pasar, Agnes segera meracik bahan dan memasak. Kegiatan membersihkan rumah, mencuci dan mempersiapkan peralatan untuk berjualan menjadi tugas Surawi. Pukul 18.00 dengan diantar becak langganan mereka mulai mengangkut masakan dan peralatan yang dibutuhkan menuju lokasi berjualan. Jarak antara rumah kontrakan sampai tempat jualan kurang lebih 1 km. Saat membuka lapak juga tergantung oleh cuaca. Jika sore hari turun hujan, maka warung bisa buka lebih malam, menunggu hujan reda. Tak jarang malah pelanggan yang harus menunggu mereka menyiapkan jualan.

Walau rutinitas padat dan jauh dari kata istirahat, Surawi dan Agnes menjalaninya dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur. “Kami selalu bersyukur atas rejeki tiap hari yang kami terima. Banyak atau sedikit, itu rejeki dari Tuhan. Puji Tuhan kalau dagangan habis terjual, kalau sisa ya kami bagikan pada tetangga-tetangga yang membutuhkan,” kata Agnes yang mengaku rata-rata pendapatan kotor dari hasil kerja keras mereka semalam kurang lebih Rp. 500.000,-.

Pengunjung yang datang ke warung mereka diperkirakan puluhan hingga hampir mencapai angka seratus orang tiap malamnya. Pelanggan terjauh dari selatan adalah Ungaran dan dari barat adalah Jrakah. Bagi Surawi dan Agnes kehadiran pelanggan dari jauh untuk ukuran warung sederhana seperti miliknya merupakan hal yang luar biasa.

Meski bahan baku saat ini mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi, mereka tetap mematok harga Rp. 6.000,-/porsi. Banyak pelanggan menyarankan untuk menaikkan harga melihat kondisi pasar yang tidak menentu, tapi mereka berdua sepakat untuk tidak menaikkan harga. “Tidak enak menaikkan harga. Warung kecil dan sederhana seperti ini kok harga makanannya mahal,” ujar Agnes merendah. Mereka lebih memilih mengurangi porsi untuk menyiasati naik-turunnya harga-harga bahan baku tersebut.

Suka duka selama menjalani usaha ini pun dialami oleh keduanya. Mereka menceritakan bahwa banyak pelanggan yang perhatian dan baik hati dengan memberikan bantuan bagi usaha mereka. Ada yang memberi kursi malas yang dapat digunakan rebahan sejenak bagi Surawi dan Agnes saat warung sepi. Ada yang mengganti tenda, yang dahulu pernah dibantu dari gereja dan kondisinya sudah mulai usang.

Ada yang membuatkan daftar menu kemudian dilaminating hingga membuatkan MMT yang dipasang di depan warung. Ada juga pelanggan yang menaruh perhatian dengan mengganti lensa kacamata Agnes yang pecah saat ia jatuh di warung. “Bagi kami mereka bukan sekedar pelanggan, tetapi sudah menjadi saudara yang menaruh belas kasihan pada kami yang tua-tua ini,” celetuk Agnes sambil tertawa ceria. Seorang pelanggan pernah berseloroh mengomentari, sayur lodeh masakan Mak Hwa adalah yang paling lezat seantero Asia.

Pujian dari para pelanggan dapat memberi penghiburan dan semangat pada kedua lansia ini untuk terus berkerja dan berusaha. Diantara pujian ada juga ujian yang harus mereka hadapi. Saat dihadapkan pada pembeli yang “nakal”, tidak jujur menyampaikan apa saja yang sudah disantapnya hingga membayar jauh lebih murah, Surawi dan Agnes hanya bisa mengikhlaskannya. Mereka menyadari tidak mungkin memperhatikan tiap pengunjung yang datang.

Surawi dan Agnes percaya dengan pengunjungnya dan tidak pernah sedikitpun terlintas perasaan curiga kepada mereka. Bagi mereka, pengunjung yang datang adalah kiriman dari Tuhan. Biasanya mereka saling menghibur diri dengan mengatakan bahwa Tuhan pasti akan memberikan ganti yang lebih baik lagi.

Hari Minggu warung “KONG dan MAK” tutup. Waktu yang ada digunakan Surawi dan Agnes untuk beristirahat dan mengikuti Perayaan Ekaristi di Gereja. “Semenjak kami berjualan, sudah jarang mengikuti kegiatan di gereja. Dahulu kami juga sering mengikuti kegiatan doa di lingkungan, tetapi sekarang waktunya tidak memungkinkan,” jelas Agnes. Namun jika kegiatan yang dilaksanakan jatuh pada hari Minggu, mereka berusaha untuk mengikutinya. “Kegiatan mengunjungi orang sakit dan pergi berziarah kami usahakan untuk bisa ikut,” tambah Surawi.

Hal ini menjadi gambaran kehidupan iman dan kepedulian mereka terhadap sesama. Walau pemahaman mereka terhadap keimanan Katolik mungkin hanya sederhana, namun yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari telah mencerminkan apa yang mereka imani. Sikap menyadari akan keterbatasan fisik dan kemampuan yang dimiliki tidak menyurutkan langkah mereka untuk terus maju guna mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Di tengah-tengah permasalahan ekonomi yang jauh dari kata cukup pun mereka tetap merelakan diri berbagi dengan sekitarnya.

Bagi Surawi dan Agnes, semua adalah saudara maka selayaknya kita mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan. “Kita kan hidup berdampingan, sebisa mungkin tidak saling menyakiti hati masing-masing. Entah itu masalah agama atau masalah lain, yang penting damai dan tidak bermusuhan,” kata Agnes menutup percakapan siang itu.

Nancy - Berkat


DATA PRIBADI

Nama : Andreas Surawi
Tempat & Tanggal lahir : Jepara, tahun 1949
Istri : Maria Agnes Tatik Handayani
Tempat & Tanggal lahir : Solo, tahun 1943
Anak : Oktavius Felix Wahyu Kurniawan (17)
Alamat : Jl. Sekayu Baru, Semarang.
Pekerjaan : Pemilik warung tenda Kong & Mak
Pendidikan :
- Kong : SD Sendang, Jepara
SMP di Kudus
- Mak : SD Baturetno, Wonogiri
SMP Sidoharjo, Solo
SMA Sidoharjo, Solo

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 168 guests and no members online

Visitors Counter

0700839
Hari ini
Kemarin
534
1132