Meretas Batas


Gereja Katolik telah membuka jendela sejak Konsili Vatikan II. Bahkan membuka pintu saat tahun Kerahiman Ilahi sepanjang tahun 2015 hingga 2016 ini. Ia sudah tidak lagi melulu disibukkan dengan urusan-urusan keselamatan yang berpusat pada dirinya sendiri melainkan menghadirkan wajah Allah yang merangkul semua mahluk untuk merasakan cinta Allah. Bukan sekedar dengan muluknya bahasa teologi dan tafsir Kitab Suci melainkan dengan tindakan nyata melalui doa, mati raga, ziarah, serta amal kasih.

Ajakan untuk mewartakan dan merasakan Kabar Gembira kepada semesta (seperti dalam ensiklik Evangeli Gaudium) bukan semata milik para klerus, biarawan dan biarawati tapi seluruh Umat Allah. Rasanya hal ini selaras dengan dentuman Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang tahun 2016-2020 yang hendak membangun Gereja yang inklusif (bekerja sama dengan semua pihak), inovatif (terus-menerus memperbarui diri), dan transformatif (berdaya ubah) demi terwujudnya peradaban kasih di Indonesia.

Di ruang lingkup yang lebih sempit lagi, pada ulang tahun dan pesta nama yang ke-88, Gereja SPM Ratu Rosario Suci Randusari Katedral Semarang ingin mengangkat semangat Gereja Universal dan Ardas Keuskupan Agung Semarang 2016-2020 dengan tema Meretas Batas: Cinta Tanpa Banyak Bicara, Kasih Tanpa Pamrih.
Meretas berarti memutuskan benang-benang pada jahitan; membuka surat dengan pisau; menebangi pohon untuk membuat jalan; merobohkan dinding. Dalam bahasa pertanian, peretasan juga mempunyai makna perlakuan pendahuluan untuk memperlunak atau menipiskan kulit pada benih. Gereja sudah mencoba meretas zaman dengan mendobrak batas-batas yang menjadi sekat antar pribadi dengan mengedepankan dialog, perjumpaan antar pribadi dan komunikasi cinta kasih, bukan malah menambah “sekat-sekat” dalam Gereja.

Cinta Kasih menjadi arah gerak Gereja selama kurang lebih satu tahun ini kiranya dapat menjadi dasar pertanyaan bagi kita “Apakah kita sudah murah hati seperti Bapa Yang Murah Hati?” Orang suci dari Kalkuta, Bunda Teresa pernah berkata “Seharusnya sedikit bicara; sebuah khotbah bukanlah sebuah titik temu. Apa yang harus engkau lakukan kemudian? Ambillah sebuah sapu dan bersihkanlah rumah seseorang.

Perkataan seperti ini sudah cukup.” Cinta menuntut perwujudan nyata. Membongkar sekat-sekat keegoisan pribadi atau kelompok. Berani menjumpai dan berkomunikasi dengan banyak lini. Bertindak mewartakan Kabar Gembira kepada semakin banyak jiwa melalui tugas dan karya pelayanan kita. Tanpa mengharap kembali. Tulus. Melakukan pekerjaan dengan kasih yang besar. Lalu apa yang kita dapat? “Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpah upah…” (1 Kor 9:18)

Bersama Bunda Maria, Ratu Rosario Suci, kita pun diajak untuk menghayati peristiwa-peristiwa kehidupan kita dengan refleksi sebagai orang kristiani. Kegembiraan, kesedihan, terang dan kemuliaan ialah puzzle dari bagian yang tak bisa kita lepaskan dalam perziarahan iman untuk sampai kepada Kristus.

Kegembiraan dan kesedihan (di dalamnya ada sakit, duka dan kecemasan) kita dan orang-orang di sekitar kita ialah milik Gereja dan kita ada di dalamnya. Dari sanalah mengalir harapan akan kebangkitan untuk merasakan terang dan kemuliaan bersama Tuhan Yesus dalam misteri Paskah. Hasil dari kepingan-kepingan itu semua ialah gambaran akan pengalaman cinta kasih; antara dicintai dan dikasihi dengan mencintai dan mengasihi; menerima dan menjadi penyalur berkat.
Tahun ini merupakan Tahun Syukur dalam mana Gereja Randusari Katedral Semarang merayakan ulang tahun ke-88 di Tahun Kerahiman Ilahi.

Dengan memaknai tema Meretas Batas: Cinta Tanpa Banyak Bicara, Kasih Tanpa Pamrih, Umat Allah Paroki Katedral sebagai paguyuban murid-murid Kristus diajak untuk melibatkan diri menjadi pewarta Kabar Gembira melalui perwujudan cinta kasih kepada siapapun juga dalam panggilan hidup di dunia secara murah hati dan tulus; tanpa banyak bicara dan tanpa pamrih. Semoga rangkaian acara yang akan terselenggara nantinya dapat menghantar kita semua pada perwujudan cinta kasih nyata dan membongkar setiap pembatas yang justru menjauhkan relasi kita dengan Tuhan dan sesama.

Add comment


Security code
Refresh

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 72 guests and no members online

Visitors Counter

0616516
Hari ini
Kemarin
198
223