Gereja Randusari Katedral: Cagar Budaya di Kota Semarang


Menjelang Ulang Tahun ke 85, Gereja Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci Randusari Katedral Semarang, telah memulai rangkaian acara. Salah satu rangkaian acara tersebut adalah Diskusi dengan Topik Penanganan Perawatan Gereja Randusari Katedral Sebagai Cagar Budaya.

Kegiatan diselenggarakan pada Hari Minggu 16 Juni 2013, pukul 10.30 WIB, bertempat di Gereja Randusari Katedral. Diskusi kali ini menghadirkan dua narasumber yaitu Bapak Han Awal dari Jakarta, serta Bapak Albertus Kriswandhoro. Diskusi pertama mendiskusikan bagaimana cara perawatan serta perbaikan bangunan yang sudah cukup tua, seperti Bangunan Gereja Randusari Katedral Semarang.

Cara perawatan dan perbaikan bangunan sangat diperlukan agar dapat lebih memancarkan aura positif dan mengingatkan kembali kenangan masa lampau sebagai bukti sejarah kebudayaan di Kota Semarang.

"Kekuatan bangunan bersejarah itu terletak pada jejak-jejak tangan manusia, bukan mesin. Semua menggunakan tenaga manusia.” ungkap Pak Awal ketika memulai penjelasannya dalam diskusi yang mayoritas dihadiri oleh dosen dan mahasiswa arsitektur dari beberapa universitas di kota Semarang.

Sebagai narasumber yang kedua, Bapak Albertus Kriswandhono, menjelaskan bahwa cagar budaya itu adalah bagaimana peristiwa yang telah terjadi menjadi tidak terlupakan, khususnya secara kultural. Beliau juga menambahkan, “Cagar budaya tidak hanya masalah bangunan/ teknis, seperti yang dikemukakan oleh Pak Awal, tetapi juga tentang manusianya, bagaimana kita menanggapinya sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan”.

Perawatan bagi bangunan bersejarah dirasa sangat kompleks, karena tidak hanya berhubungan dengan fisik bangunannya saja, tetapi juga mencakup lingkungan sekitarnya, serta sikap dari manusianya sendiri sebagai subyek yang melakukan konservasi tersebut.

Banyak masukan yang dilontarkan peserta dari berbagai sudut pandang, bahkan mereka berharap agar diadakan lagi acara serupa sebagai kelanjutan dari diskusi tersebut. Sedikit refleksi yang bisa diambil dari diskusi itu bahwa perbaikan yang telah dilakukan, yang mungkin malah menurunkan nilai sejarah suatu bangunan, tidak akan bisa dikembalikan lagi.

Oleh karena itu, perlu dipelajari lagi agar tindakan perbaikan itu tidak mengubah niali sejarah yang ada. Semoga diskusi ini nantinya dapat menjadi acuan dalam menentukan rancangan konservasi yang akan dilakukan pada gereja kita yang tercinta ini.

Kontributor : Gizel

Add comment


Security code
Refresh

Comments   

 
0 #1 wulan 2013-06-21 08:23
sebuah acara yang bagus dan menarik. tidak rugi ikut hadir di dalamnya. namun yg perlu diingat, mempertahankan gereja randusari-kated ral sbg cagar budaya bukan hanya tanggungjawab romo dan dewan paroki melainkan seluruh umat paroki dan siapapun yg peduli dg keberadaan gereja tercinta ini... ayo..talk less do more untuk katedral yg lebih baik... ;-)
Quote
 

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 77 guests and no members online

Visitors Counter

0660934
Hari ini
Kemarin
83
261