Breaking News
Home » Renungan » “I Am”

“I Am”

Bahasa Indonesia, tidak seperti bahasa Inggris, Yunani, Latin, dan Ibrani, tidak mengenal tenses sehingga kata kerja yang digunakan dalam suatu kalimat tidak mengalami perubahan bentuk. Tentu saja ini memudahkan orang untuk mempelajari bahasa Indonesia, meskipun ada juga yang berpendapat bahwa karena tidak mengenal tenses, penutur bahasa Indonesia cenderung mengabaikan makna apakah suatu perbuatan sudah selesai dilakukan, sedang dilaku-kan, atau akan (atau belum) dilakukan.

Saya tidak hendak membahas tentang tata bahasa dalam tulisan ini, meskipun memang ada hubungannya dengan apa yang menjadi permenungan saya. Kebetulan saya memiliki Kitab Suci berbahasa Inggris, yang sesekali saya baca untuk membandingkan apakah dalam bahasa lain suatu penyataan dapat memiliki arti yang berbeda. Saat membaca kisah tentang Musa dan semak-semak yang terbakar, saya tergelitik dengan pernyataan Allah akan diriNya kepada Musa.
Ketika Musa bertanya kepada Allah siapakah Dia yang sedang berbicara dengan dirinya, Allah menjawab, “Akulah Aku.” Dalam bahasa Inggris, jawaban Allah kepada Musa ini adalah: “I Am.”
Yang menarik, Allah menyatakan siapa diriNya dalam bentuk sekarang, bukan bentuk lampau atau bentuk masa depan.

Lalu apa artinya?

Bagi saya itu artinya Tuhan Allah ada saat ini. Dia tidak menyatakan diriNya sebagai “I Was” (bentuk lampau) atau “I Will Be” (bentuk masa depan), tetapi “I Am.” Allah ada saat ini.
Allah ada di sini saat ini, sehingga kita tidak perlu terus menerus menyesali apa yang terjadi pada hidup kita di masa lampau, juga tidak kuatir secara berlebihan akan apa yang akan terjadi pada diri kita di masa depan.

Ya, Allah ada bersama kita saat ini. Dia bukan Allah yang jauh di masa lampau atau tak terjangkau di masa depan. Allah yang kekal ada bersama kita, dan segala waktu adalah sekarang bagiNya. Kapanpun kita membutuh-kan Dia (dan kita selalu membutuhkan Dia), Dia ada bersama kita dan jaraknya hanyalah sejangkauan doa.
Tanpa perlu berpanjang-panjang lagi, saya hendak mengajak kita semua bertanya pada diri sendiri, “Tidakkah seharusnya kita bahagia punya Allah yang selalu berada bersama kita saat ini?”

Salam hangat, Hansel

Leave a Reply

Your email address will not be published.