Home » Katekese & Renungan » BERSATU TERLIBAT DALAM SUKACITA PERWUJUDAN

BERSATU TERLIBAT DALAM SUKACITA PERWUJUDAN

Peristiwa pentahiran 10 orang kusta ini dapat dilihat dalam dua perspektif atau cara pandang utama:

pertama, dari karya Yesus, apa yang dilakukan Yesus ini memperlihatkan kuasa Allah yang luar biasa. Ia menyelamatkan umat-Nya secara utuh sempurna. Tidak hanya sakit fisik, tetapi juga sakit sosial, bahkan sakit rohani/iman-nya dipulihkan. Penderita kusta di kalangan masyarakat Yahudi dipandang sebagai orang-orang terkutuk yang harus dibuang atau diasingkan, tidak boleh ketemu apalagi bergaul dengan masyarakat.

Kedua, dari 10 penderita kusta, semuanya disembuhkan atau ditahirkan (“Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir?”), tetapi hanya satu yang kembali; itupun disebut sebagai orang Samaria yang dalam kisah ini disebut “orang asing”. Menarik sekali bahwa kepada orang Samaria ini Yesus bersabda: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau”. Ia menerima peneguhan, bahwa bukan hanya badannya telah disembuhkan dari kusta, bukan hanya relasi sosial dengan masyarakat dipulihkan, tetapi imannya dinyatakan selamat. Keselamatan orang ini sungguh penuh, sungguh sempurna.

Kita tidak usah menunggu menjadi orang kusta untuk mendapat keselamatan yang penuh/sempurna. Meminjam kata-kata Santo Paulus: kita telah “memperoleh keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal”. Keselamatan yang telah diterima dan dialami oleh umat inilah yang terus dijaga dan diperjuangkan (dilabuhi) oleh Paulus agar jangan sampai hilang. Paulus hanya ingin agar umatnya bertekun dan setia menghidupi imannya.

Kita sampai kepada hal yang terpenting dalam rangkaian permenungan kita sore ini: kita diundang untuk bersyukur secara bersama dan secara pribadi per orangan atas karunia keselamatan dalam Kristus Yesus yang telah kita terima dalam hidup kita. Apa dan bagaimana wujud syukur itu?

Jawabnya: dengan BERSATU TERLIBAT.

Bersatu artinya tetap hidup dalam persekutuan (communio), ora ndhewe lan ora ndheweki (tdk menyendiri), ora ngadoh (tidak menjauh), lan ora nuruti karepe dhewe (tidak menuruti keinginan sendiri saja). Nyedulur lan ngguyubi (menyaudara).

Terlibat artinya berpartisipasi dan berperan serta (participatio). Paroki ini adalah milik kita bersama dan untuk kita semua. Maka siapa pun yang merasa menjadi warga paroki Katedral ini, mari kita ambil bagian dalam gerak bersama.  Saya tidak mengajak Anda untuk menjadi pengurus DPP semua atau pengurus lingkungan semua, atau ikut koor semua; tetapi kita harus memiliki disponibilitas atau kesiapsediaan setiap saat untuk berperanserta dalam setiap gerak Gereja paroki kita ini.

Umat yang tidak mau terlibat atau berperan serta itu saya bayangkan seperti 9 orang kusta yang telah disembuhkan dan dipulihkan tapi lupa diri dan cuek terhadap apa yang mesti dilakukannya. Berbeda dengan si kusta yg orang Samaria tadi. Lukas menggambarkan dia sebagai orang yang benar-benar sadar dan penuh sukacita: “Seorang dari antara mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus, dan mengucap syukur kepada-Nya”.

oleh: Romo YR Edy Purwanto, Pr Vikjen Keuskupan Agung Semarang